Round-Up

Tentang Kurva Corona RI yang Terburuk di Asia Tenggara

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 21 Mei 2020 08:40 WIB
Poster
Gambar ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)

Didik mengemukakan buruknya kurva Corona RI untuk menguatkan pendapat bahwa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) tidak boleh dilonggarkan. Soalnya, kondisi penularan virus Corona di Indonesia masih tinggi. Kurva Corona masih menanjak naik.

Penelitian yang dikutip INDEF, 20 Mei 2020. (Dok INDEF)Penelitian yang dikutip INDEF, 20 Mei 2020. (Dok INDEF)

"Dengan melihat fakta yang ada dan kurva yang masih terus meningkat, maka atas dasar apa wacana dan rencana pelonggaran akan dilakukan? Baru wacana saja sudah semakin tidak tertib dan PSBB dilanggar secara massal di berbagai kota di Indonesia tanpa bisa diatur secara tertib oleh pemerintah. Keadaan ini terjadi karena pemerintah menjadi masalah kedua setelah masalah COVID-19 itu sendiri. Pemerintah tidak menjadi bagian dari solusi, tetapi masuk ke dalam menjadi bagian dari masalah," tutur Didik.

Isu pelonggaran PSBB sebenarnya sudah ditepis. Pemerintah menyatakan yang benar bukanlah pelonggaran, melainkan pengurangan PSBB. Terlepas dari isu itu, kurva Corona Indonesia memang belum menunjukkan tanda-tanda melandai.

Berdasarkan data resmi pemerintah, Rabu (20/5), jumlah total kasus COVID-19 hari ini mencapai 19.189 kasus. Dari jumlah sebanyak itu, 13.732 kasus masih merupakan kasus aktif, sedangkan sisanya yakni 4.575 kasus sudah sembuh, dan 1.242 kasus sudah berakhir dengan kematian.

Grafik dan Kurva Corona 20 Mei 2020. (detikcom)Grafik dan Kurva Corona 20 Mei 2020. (detikcom)



Hari Rabu (20/5) ada 693 kasus baru. Jumlah ini lebih tinggi ketimbang rekor sebelumnya yakni pada 13 Mei dengan 689 kasus baru.