Round-Up

Beragam Cerita Dewasa yang Picu Zuraida Bunuh Suaminya

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 21 Mei 2020 04:05 WIB
Sidang kasus hakim Jamaluddin (Datuk Haris Molana-detikcom)
Foto: Sidang kasus hakim Jamaluddin (Datuk Haris Molana-detikcom)

Setelah itu, Zuraida juga bicara soal Jamaluddin yang disebutnya banyak mengganggu wanita. Zuraida menyebut almarhum suaminya itu pernah mengganggu adiknya hingga instruktur senam di PN Medan.

"Adik saya juga diganggu Pak Jamal. Bukan anak saya aja. Mau wanita-wanita lain juga, banyak bukti-buktinya di HP saya. Foto-foto dia dengan perempuan lain. Termasuk instruktur senam di PN Medan, dia kirim foto tanpa baju, chatting," tuturnya.

Dia mengatakan niat membunuh Jamaluddin mulai muncul usai percobaan pemerkosaan anaknya terjadi. Dia juga mengatakan mengajak eksekutor lainnya dalam kasus ini karena merasa tak bisa melakukan pembunuhan sendirian.

"Di situ mulai memuncak. Hati saya semakin sakit. Semakin melindungi anak saya. Nggak tahu saya seperti apa mau menjelaskannya lagi," ujar Zuraida.

Cerita dewasa berikutnya adalah pengakuan Zuraida soal dirinya yang disebut bisa 'dipakai' siapa saja. Zuraida juga bicara istilah 'kecap boleh berceceran asal botol kuat'.

"Almarhum, pernahkah di depan si Jefri dia nyebut istri boleh di rumah, di luar boleh 'dipakai' orang?" tanya pengacara Zuraida, Onan Purba, saat pemeriksaan terdakwa.

"Itu didengar Jefri dan kawan-kawan, Pak. Sakit hati saya mendengarkan dari suami saya seperti itu," ucap Zuraida.

"Dia juga melanjutkan, katanya 'kecap boleh berceceran asal botol kuat'," sambung Zuraida tanpa menjelaskan maksud istilah tersebut.

Selain itu, Zuraida juga mengungkapkan penyesalan telah membunuh Jamaluddin. Ada dua alasan yang membuatnya menyesal.

"Saya menyesali karena kemanusiaan dan dia bapak dari anak saya," ucap Zuraida.

Selain dari Zuraida, terdakwa Jefri Pratama juga mengungkap cerita dewasa lain terkait pembunuhan Jamaluddin. Dia mengaku pernah berhubungan intim dengan Zuraida.

Pengakuan Jefri itu disampaikan saat dia diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa lainnya di PN Medan. Jefri awalnya ditanyai hakim soal CCTV di rumah Zuraida. Jefri mengaku dirinya tahu soal keberadaan CCTV di rumah Zuraida. Namun dia mengaku tak tahu kalau ternyata CCTV itu mati.

Tanya-jawab kemudian beralih ke pengacara terdakwa. Salah satu pengacara menanyakan soal curhat Zuraida ke Jefri soal rumah tangganya.

"ZH menceritakan bahwasanya permasalahan pribadi dia. Saya menganjurkan dalam hal ini bersabar, ikhtiar. Udah itu saya menganjurkan kalau memang sudah begitu terjadi agar ke Pengadilan Agama. Dia minta tolong pada saya agar almarhum dibunuh. Kalau nggak mati, dia bunuh diri. Jadi saya jelaskan kepada Hanum, 'kenapa seperti itu? Daripada kamu yang bunuh diri lebih baik dia yang mati'. Itulah saya sampaikan setelah dia minta tolong," ucap Jefri.

Setelah itu, Jefri juga bercerita soal janji Zuraida tentang umrah, uang, mobil, hingga kantor pengacara. Menurutnya, hal tersebut hanya janji yang diucapkan oleh Zuraida saat mereka bertemu di salah satu kedai kopi.

"Itu hanya janji yang disampaikan ZH," ucapnya.

Jefri kemudian bicara tentang awal perkenalannya dengan Zuraida karena anak mereka satu sekolah. Perkenalan itu berlanjut ke hubungan pribadi.

"Kemudian curhat itu berlanjut sepertinya bercinta?" tanya salah satu pengacara.

"Kedekatan saya pada Hanum pada bulan Juni. Jadi di saat Hanum minta tolong untuk pembuatan perusahaan dan itu diketahui oleh almarhum," ujar Jefri.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3