Round-Up

Bukti Baru KPK di Kasus Dana Hibah KONI dari Eks Aspri Imam Nahrawi

Tim detikcom - detikNews
Senin, 18 Mei 2020 08:55 WIB
Gedung KPK
Foto Gedung KPK: Ari Saputra
Jakarta -

Asisten mantan Menpora Imam Nahrawi, MIftahul Ulum mengungkap fakta baru di kasus suap dana hibah KONI. Fakta baru yang diungkap Ulum di persidangan akan menjadi bukti baru KPK agar kasus ini terang benderang.

Dalam persidangan, Jumat (15/5), Ulum yang statusnya menjadi saksi di persidangan Imam mengaku menerima uang dari mantan Bendahara Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Johnny E Awuy. Pernyataan Ulum di persidangan kemarin memang cukup mengejutkan, karena dalam persidangan yang lalu-lalu sejak Ulum masih berstatus saksi hingga menjadi tersangka, dia masih kukuh tidak mengakui penerimaan uang itu.

Pengakuan Ulum juga membuat jaksa KPK mempertanyakan sikap Ulum. Jaksa KPK menanyakan kenapa Ulum sempat mengelak dalam berita acara pemeriksaan (BAP), dan baru sekarang mengakuinya.

"Dulu dalam BAP Saudara mengelak, sekarang Saudara mengakui menerima ATM dari Johnny, kenapa dulu Saudara mengelak?" tanya jaksa KPK dalam persidangan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (15/5) seperti dilansir Antara.

"Karena waktu itu kejadiannya Pak Johnny memang memberi saya ATM, lalu saya akui di persidangan ini, saya berniat untuk berkata jujur," jawab Ulum.

Dalam dakwaan, Bendahara KONI Johnny E Awuy disebutkan mengirimkan Rp 10 miliar dan sesuai arahan Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy, uang Rp 9 miliar diserahkan kepada Imam melalui Miftahul Ulum, yaitu sebesar Rp 3 miliar diberikan Johnny kepada Arief Susanto selaku suruhan Ulum di kantor KONI Pusat; Rp 3 miliar dalam bentuk USD 71.400 dan SGD 189.000 diberikan Ending melalui Atam kepada Ulum di Lapangan Golf Senayan; dan Rp 3 miliar dimasukkan ke amplop-amplop diberikan Ending ke Ulum di lapangan bulu tangkis Kemenpora RI.

Tujuan pemberian suap itu adalah agar Kemenpora mencairkan proposal pengawasan dan pendampingan sejumlah Rp 51,592 miliar, sehingga cair Rp 30 miliar.

"Di BAP 53 huruf c, Saudara mengatakan, 'Saya tetap di sini gak papa, yang penting dia lolos, saya akan mengakui uang yang belasan juta, saya akui yang 10 juta, 20 juta yang gede-gede gak akan saya akui, di luar itu gak saya akui, yang penting dia lolos', kalimat yang Anda maksud siapa?" tanya jaksa Agus.

"Dia itu karena yang bermasalah KONI dan Kemenpora, dia itu sebenarnya ada Pak Menteri, ada Kejaksaan Agung, ada BPK, ada 3 orang ini yang perlu dilindungi waktu itu," jawab Ulum.

Simak juga video Rompi Oranye Imam Nahrawi di Jumat Keramat:

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5