Blak-blakan Relawan Lintas Negara

Firdaus, Melayani Korban Perang & Bencana di Suriah-Afrika

Deden Gunawan - detikNews
Jumat, 08 Mei 2020 06:25 WIB
Firdaus Guritno, relawan kemanusiaan lintas negara
Firdaus Guritno (Foto: Dok pribadi via Instagram)
Jakarta -

Firdaus Guritno, 29 tahun, melakoni hidupnya dengan prihatin. Saat masih sekolah dasar dia pernah berjualan di pasar. Juga menjadi pemungut bola di lapangan tenis demi upah beberapa ratus rupiah. Selama kuliah di Istanbul, Turki, dia juga tak cuma mengandalkan beasiswa. Bekerja serabutan sebagai pemandu wisata hingga berjualan busana muslim pernah dilakoninya.

"Saya merasa banyak dibantu orang lain, karena itu saya juga harus melakukan hal serupa, menjadi relawan," kata lelaki kelahiran Banjarmasin, 21 Juli 1991 itu.

Selepas kuliah di Jurusan Kimia, lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang berkantor pusat di Jakarta menawarinya bergabung. Firdaus didaulat sebagai penanggung jawab untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika di Desk-Global Humanity Response ACT. Lembaga ini ikut memasok logistik bagi para korban perang di Suriah yang mengungsi ke perbatasan Turki. "Sejak 2017 saya sudah lima kali masuk wilayah Suriah," ujar Firdaus.

Menjadi relawan kemanusiaan, khususnya di wilayah konflik seperti Suriah, kata dia, tak cuma butuh berbagai syarat administrasi dan ketangguhan fisik. Seringkali soal mental dan nyali jadi yang utama.

Ketika pertama masuk Suriah, ia mengaku sempat gentar. Apalagi ketika tengah asyik membagikan bantuan, tiba-tiba terdengar ledakan bom. Semua jadi buyar, lari tunggang-langgang untuk berlindung. "Tapi sekarang tidak lagi. Pada 2018, saya malah mengajak istri dan tinggal selama dua bulan di kawasan Suriah," ujarnya.


K
husus di Sudan, Firdaus menyebut perjalanan untuk menyampaikan bantuan cukup berliku. Tak cuma soal medan yang berat karena wilayahnya kering-berpasir, tapi terkait mental aparatnya.
"Tiap akan masuk ke satu titik wilayah harus kasih uang di bawah meja," ujar Firdaus diiringi senyum.Tak cuma ke Suriah, suami dari Elsa Kurniati itu juga pernah mengemban misi kemanusiaan ke sejumlah negara di Afrika, seperti
Sudan, Etiopia, dan Mali. Ke Mali dia antara lain membawa bantuan daging Kurban saat Idul Adha 2019.

Secara umum, masyarakat Sudan sangat wellcome terhadap orang Indonesia. Mereka tahu Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia. "Semua itu berkat penampilan aparat TNI yang menjadi Pasukan Penjaga Perdamaian. Mereka dikenal ramah dan membaur dengan warga," ujar Firdaus.

Pada bagian lain dia juga berkisah tentang hubungannya dengan para pengungsi dari Uighur. Juga soal persamaan dan perbedaan Turki dan Indonesia sebagai negara engan mayoritas muslim. Bagaimana dia menilai sosok Erdogan jadi idola sebagian masyarakat di Indonesia?

Simak selengkapnya dalam Blak-blakan dengan Firdaus Guritno seorang relawan kemanusiaan lintas negara, "Melayani Korban Perang dan Bencana" di detik.com, Jumat (8/5/2020).

[Gambas:Video 20detik]





(jat/jat)