Kapal China Pembuang Jenazah ABK WNI: Ngaku Cari Tuna, Ternyata Buru Hiu

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 07 Mei 2020 15:57 WIB
Perburuan sirip hiu oleh kapal China. (Sumber: situs EJF)
Perburuan sirip hiu oleh kapal China. (Sumber: situs EJF)

Para ABK memperkirakan kapal itu bisa menangkap 20 hiu per hari. Saat para ABK hendak meninggalkan kapal itu, ada 16 boks penuh sirip hiu, setiap boks beratnya 45 kg. Biasanya, sirip-sirip hiu itu akan dipindahkan dari kapal ke kapal hingga mencapai pelabuhan untuk dijual.

China, negara asal kapal itu, memang tidak punya aturan yang melarang perburuan sirip hiu. Namun demikian, praktik perburuan sirip hiu adalah pelanggaran aturan milik badan regional Samudra Pasifik bagian barat-tengah.

Foto yang ditunjukkan para ABK memperlihatkan hiu-hiu itu termasuk jenis yang terancam punah, antara lain hiu martil dan hiu koboi (oceanic whitetip).

APIL dan EJF menyerukan investigasi oleh otoritas China dan internasional terhadap kasus eksploitasi, pelanggaran HAM, dan penangkapan ikan ilegal ini. APIL dan EJF menilai kasus ini menjadi pengingat yang sangat penting untuk mengurus sektor makanan dari laut (seafood). Perubahan radikal terhadap perikanan diperlukan, tak hanya demi kelangsungan ekosistem laut tapi juga untuk orang-orang yang menggantungkan hidup dari laut.

Halaman

(dnu/zlf)