Jokowi Ingin Kurva Kasus Corona Turun di Mei, Menurut Para Ahli Bisa!

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 06 Mei 2020 19:26 WIB
Poster
Ilustrasi Corona di Indonesia (Edi Wahyono/detikcom)

Pandemi Corona Lewati Masa Puncak Mei

Ada hitung-hitungan pemodelan lain yang mendukung keinginan Jokowi, yakni riset gabungan yang dibuat oleh pakar dari berbagai universitas dan tim SimcovID.

Ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini berasal dari ITB, Unpad, UGM, Essex and Khalifa University, University of Southern Denmark, Oxford University, ITS, Universitas Brawijaya, dan Universitas Nusa Cendana.

Peneliti membagi prediksi berdasarkan tiga level intervensi sebagai berikut:
1. Tanpa intervensi: Penyebaran virus dibiarkan tanpa penanganan.
2. Mitigasi (mulai 15 Maret 2020): Memperlambat penyebaran. 50 persen populasi diam di dalam tempatnya, 50 persen populasi bisa bepergian.
3. Supresi (jika mulai 12 April 2020): Menekan laju penyebaran. Karantina wilayah. Hanya mengizinkan 10 persen populasi yang bisa bepergian.

Untuk kasus Indonesia, pada saat itu belum masuk ke level supresi. "Indonesia cenderung mitigasi keras, belum supresi," kata Nuning Nuraini, peneliti matematika epidemiologi ITB yang ikut serta dalam riset ini, menjawab pertanyaan detikcom, Kamis (9/4/2020).

Namun, ketika memasuki level supresi, puncak Corona akan muncul pada akhir April hingga awal Mei 2020. Artinya, pertengahan Mei kasus Corona di Indonesia sudah mulai melambat alias angka kasus turun. Berikut ini rinciannya:

1. Tanpa intervensi
- Jumlah kematian: 2,6 juta
- durasi epidemi sejak intervensi: 4-5 bulan
- puncak kasus aktif: 55 juta (tengah Mei 2020)
- puncak kebutuhan ICU: 6 juta

2. Mitigasi (mulai 15 Maret 2020)
- Jumlah kematian: 1,2 juta
- durasi epidemi sejak intervensi: 10-13 bulan
- puncak kasus aktif: 5,5 juga (awal Juli 2020)
- puncak kebutuhan ICU: 600 ribu

3. Supresi (jika mulai 12 April 2020)
- Jumlah kematian: 120 ribu
- durasi epidemi sejak intervensi: 6-7 bulan
- puncak kasus aktif: 1,6 juta (akhir April-awal Mei 2020)
- puncak kebutuhan ICU: 180 ribu

Penelitian dengan draf bertanggal 6 April 2020 ini didasarkan pada data sampai 31 Maret 2020. Hasil pemodelan ini ketika itu belum melalui penelaahan sejawat (peer review).