KKP Beri Klaim Asuransi Rp 62,5 Juta ke Pembudidaya Terdampak Banjir

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Kamis, 30 Apr 2020 16:10 WIB
KKP
Foto: dok KKP
Jakarta -

Sejumlah pembudidaya terdampak banjir mendapatkan manfaat program Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK) yang diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Total nilai klaim sebesar Rp 62,5 juta telah diterima oleh 12 pembudidaya. Adapun total kerugian perkiraan hasil panen yang diderita sebanyak 70,7 ton.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menyatakan bahwa program APPIK merupakan implementasi langsung dari amanat Undang-Undang No.7/2016 tentang Perlindungan Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.18/2016 tentang Jaminan Perlindungan atas Resiko kepada Nelayan, Pembudidaya Ikan dan Petambak Garam. Program APPIK diluncurkan oleh KKP pada 2017 dan hingga 2019 telah meng-cover total lahan seluas 20.836 hektare untuk 15.026 pembudidaya ikan skala kecil.

"Asuransi bagi pembudidaya ikan merupakan program sangat penting untuk dapat memberikan perlindungan bagi pembudidaya terutama yang berskala kecil, karena adanya kesulitan untuk bangkit kembali apabila ada kegagalan dalam proses produksi, oleh karenanya pemerintah hadir untuk dapat memberikan jaminan keberlanjutan usaha mereka," lanjut Slamet dalam keterangan tertulis, Kamis (30/4/2020).

Sebanyak 12 pembudidaya asal Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Gorontalo Utara yang menerima dana klaim ini merupakan pemilik polis aktif yang menerima bantuan premi APPIK dari KKP pada 2019. Adapun 8 pembudidaya asal Kabupaten Hulu Sungai Utara mendapat nilai klaim sebesar Rp 45 juta dengan total kerugian perkiraan hasil panen sebesar 67,7 ton dan 4 pembudidaya asal Kabupaten Gorontalo Utara mendapat nilai klaim sebesar Rp 17,5 juta dengan total kerugian perkiraan hasil panen sebesar 3 ton.

Slamet menjelaskan bahwa selain keberlanjutan usaha budidaya, asuransi ini merupakan stimulan bagi pembudidaya ikan agar mereka terbiasa untuk mempunyai mitigasi risiko apabila terjadi kegagalan produksi akibat bencana maupun wabah penyakit.

"Untuk dapat meminimalisir kerugian akibat bencana, pelaku usaha budidaya juga dapat melakukan berbagai upaya seperti melakukan panen lebih awal di daerah yang sering terjadi bencana banjir. Peran serta dinas perikanan setempat juga tidak kalah penting untuk dapat membantu pembudidaya mengurangi dampak ekonomi akibat bencana seperti melakukan sosialisasi atau mendorong pembuatan tanggul di daerah rawan bencana," jelasnya.

Dengan tingginya animo dari pembudidaya untuk mendapatkan program bantuan asuransi, KKP telah memperluas jangkauan objek dan jenis komoditas yang dipertanggungkan. Jika semula hanya diperuntukan bagi usaha budidaya udang, saat ini diperluas untuk usaha budidaya ikan lain seperti bandeng, patin dan budidaya ikan tawar lainnya.

Sebagai gambaran nilai maksimum pertanggungan untuk komoditas udang/polikultur sebesar Rp 7,5 juta per hektare/tahun, ikan patin per tahunnya sebesar Rp 3 juta per 250 meter persegi, nila tawar dan lele maksimum pertanggungan sebesar Rp 4,5 juta per 200 meter persegi/tahun. Sedangkan untuk nila payau nilai pertanggungan maksimum sebesar Rp 5 juta per hektare/tahun. Komoditas lainnya yaitu bandeng maksimum pertanggungan per tahunnya sebesar Rp 3 juta/hektare.

"Dengan diterimanya manfaat ini oleh pembudidaya, kami harapkan ke depan untuk pembudidaya dapat mandiri dan sadar akan pentingnya memiliki asuransi dalam usaha budidaya yang mereka lakukan," tutup Slamet.

Sebagai informasi, pada 2019 KKP memberikan bantuan pembayaran premi asuransi perikanan untuk total lahan budidaya seluas 7316,8 hektare yang tersebar di 25 provinsi dan 132 kabupaten/kota, dengan jumlah pembudidaya yang terlindungi sebanyak 6.108 orang. Sedangkan 2020, KKP mencanangkan target untuk dapat mengcover 5.000 hektare lahan usaha pembudidayaan baru, sehingga akan lebih banyak pembudidaya ikan yang dapat merasakan manfaat asuransi.

Sementara itu pembudidaya patin sebagai anggota kelompok Harapan Bersama dari Desa Palimbangan Kecamatan Haur Gading, A.Yani, yang merupakan penerima manfaat klaim asuransi mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas bantuan preminya.

"Kami merasa tertolong dengan adanya bantuan dana yang cair dari klaim asuransi. Bantuan ini tentunya cukup meringankan beban kami dan dapat menjadi tambahan modal untuk melanjutkan usaha budidaya kami," lanjutnya.

Yani yang kehilangan ikan sebanyak 8.000 ekor dengan total perkiraan panen sebanyak 3,2 ton sudah merencanakan untuk bangkit kembali setelah mendapatkan rekomendasi dari dinas setempat. "Pembayaran klaim yang telah kami terima akan kami pakai untuk membeli benih untuk memulai usaha kembali," tutupnya.

(ega/ega)