Suara Pedagang Kecil: Di Jalan Mati Kena Corona, di Rumah Mati Lapar

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 14 Apr 2020 15:47 WIB
Pedagang pakaian bekas kembali memenuhi sisi jalan di kawasan Senen, Jakarta. Berikut foto-foto penampakannya.
Ilustrasi, tidak berhubungan dengan berita: Pasar pakaian bekas di Senen, Jakarta Pusat. (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Pedagang pakaian di Tangerang ini dihadapkan pada pilihan sulit saat wabah COVID-19 sekarang. Bila terus berdagang, dia berisiko tertular virus mematikan. Namun, bila 'stay at home', dia tidak bisa tidak mendapat penghasilan untuk menyambung hidup.

Pedagang pakaian tersebut bernama Yernis, biasa menggelar lapaknya di Taman Kirana Surya Blok I 6/6, Cisoka, Tangerang, Banten. Ibu berkerudung ini menjual pelbagai jenis pakaian, dari pakaian anak hingga pakaian dalam. Pada Sabtu (11/4), dia disambangi oleh petugas kepolisian yang hendak membubarkan pasar kaget.

Momen Yernis saat berhadap-hadapan dengan petugas kepolisian terekam dalam video viral. Tampak Yernis berusaha menjelaskan kondisinya sebagai orang yang mencoba bertahan hidup di tengah pilihan sulit. Dua personel polisi bermasker menyimak penjelasan Yernis.

"Beliau bernama Ibu Yernis," kata Kapolsek Cisoka AKP Akbar Baskoro menyampaikan nama ibu pedagang dalam video viral itu, saat dimintai konfirmasi detikcom, Selasa (14/4/2020).

Yernis mengaku paham bahwa penertiban di pasar kaget ini dilakukan demi keselamatan orang banyak, agar terhindar dari virus Corona. Namun dia juga perlu mencukupi kebutuhan hidupnya.

"Kami butuh makan. Anak kami masih kecil-kecil. Di luar kami mati kena Corona, di rumah kami mati kelaparan, Pak. Kan sama-sama mati juga, Pak," kata Yernis kepada dua polisi yang hendak membubarkan lapaknya, Sabtu (11/4) kemarin.

Yernis jelas bukan berada di luar rumah karena iseng, melainkan karena mencari uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dia mengaku punya cicilan yang harus dilunasi. Tanpa bekerja, cicilan tidak bisa dilunasi. Di masa darurat Corona ini, cicilan juga tidak bisa ditangguhkan begitu saja.

"Cicilan katanya boleh ditangguhkan, tapi tidak ada cicilan boleh ditangguhkan, Pak. Kami bayar dari mana, Pak? Kami pedagang kaki lima. Kami juga ngerti, ini buat kita bersama. Tapi kalau seperti ini kami nggak makan, gimana?" tutur Yernis menangis, gantungan baju dagangan tersampir dengan lengan kanannya.

Semakin dia berkata-kata, semakin tak terbendung air matanya. Sembari terisak-isak, dia mencoba terus berbicara dan memohon bantuan dari pelindung rakyat kecil.

"Kalau ada solusi dari pemerintah, tolong kami. Bantu kami sembako buat makan, Pak. Buat makan doang. Di rumah kami mati kelaparan, di luar kami mati Corona, Pak. Kalau nggak, racunin aja kami semua," kata Yernis, kali ini sudah bernada putus asa.

Dia menceritakan, anaknya meminta makan, namun tidak ada yang dimakan. Sepuluh hari belakangan, Yernis utang ke tetangga, tetapi kini dia paham tetangganya juga butuh modal untuk bertahan. Polisi memahami keluh kesah Yernis dan berjanji akan menyampaikan ke unsur pemerintahan.

AKP Akbar Baskoro menjelaskan, kegiatan pada Sabtu (11/4) itu terkait pencegahan keramaian dalam rangka memutus mata rantai COVID-19. Yernis dikatakannya menggelar lapak bukan setiap hari, melainkan sepekan sekali saat ada pasar kaget di Taman Kirana Surya itu. Lapak Yernis dikatakannya tidak dibubarkan begitu saja, melainkan direlokasi.

"Kecamatan dan Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) memberikan lokasi ibu itu berjualan, sehingga dapat berjualan setiap hari. Selama ini, Ibu Yernis berjualan hanya sepekan sekali, yaitu pada pasar kaget tersebut," kata Akbar.

Yernis diarahkan berjualan di area permukiman di sekitar lokasi, bukan lagi di lokasi pasar kaget. Kegiatan penertiban tersebut digelar dengan tetap memperhitungkan asas kemanusiaan.

"Pastinya kami dan unsur Muspika selalu mengarahkan kepada anggota untuk pelaksanaan kegiatan harus dilaksanakan dengan humanis," kata Akbar.

(dnu/fjp)