Suara Pedagang Kecil: Di Jalan Mati Kena Corona, di Rumah Mati Lapar

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 14 Apr 2020 15:47 WIB
Pedagang pakaian bekas kembali memenuhi sisi jalan di kawasan Senen, Jakarta. Berikut foto-foto penampakannya.
Ilustrasi, tidak berhubungan dengan berita: Pasar pakaian bekas di Senen, Jakarta Pusat. (Grandyos Zafna/detikcom)

Yernis jelas bukan berada di luar rumah karena iseng, melainkan karena mencari uang untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Dia mengaku punya cicilan yang harus dilunasi. Tanpa bekerja, cicilan tidak bisa dilunasi. Di masa darurat Corona ini, cicilan juga tidak bisa ditangguhkan begitu saja.

"Cicilan katanya boleh ditangguhkan, tapi tidak ada cicilan boleh ditangguhkan, Pak. Kami bayar dari mana, Pak? Kami pedagang kaki lima. Kami juga ngerti, ini buat kita bersama. Tapi kalau seperti ini kami nggak makan, gimana?" tutur Yernis menangis, gantungan baju dagangan tersampir dengan lengan kanannya.

Semakin dia berkata-kata, semakin tak terbendung air matanya. Sembari terisak-isak, dia mencoba terus berbicara dan memohon bantuan dari pelindung rakyat kecil.

"Kalau ada solusi dari pemerintah, tolong kami. Bantu kami sembako buat makan, Pak. Buat makan doang. Di rumah kami mati kelaparan, di luar kami mati Corona, Pak. Kalau nggak, racunin aja kami semua," kata Yernis, kali ini sudah bernada putus asa.

Dia menceritakan, anaknya meminta makan, namun tidak ada yang dimakan. Sepuluh hari belakangan, Yernis utang ke tetangga, tetapi kini dia paham tetangganya juga butuh modal untuk bertahan. Polisi memahami keluh kesah Yernis dan berjanji akan menyampaikan ke unsur pemerintahan.

AKP Akbar Baskoro menjelaskan, kegiatan pada Sabtu (11/4) itu terkait pencegahan keramaian dalam rangka memutus mata rantai COVID-19. Yernis dikatakannya menggelar lapak bukan setiap hari, melainkan sepekan sekali saat ada pasar kaget di Taman Kirana Surya itu. Lapak Yernis dikatakannya tidak dibubarkan begitu saja, melainkan direlokasi.

"Kecamatan dan Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) memberikan lokasi ibu itu berjualan, sehingga dapat berjualan setiap hari. Selama ini, Ibu Yernis berjualan hanya sepekan sekali, yaitu pada pasar kaget tersebut," kata Akbar.

Yernis diarahkan berjualan di area permukiman di sekitar lokasi, bukan lagi di lokasi pasar kaget. Kegiatan penertiban tersebut digelar dengan tetap memperhitungkan asas kemanusiaan.

"Pastinya kami dan unsur Muspika selalu mengarahkan kepada anggota untuk pelaksanaan kegiatan harus dilaksanakan dengan humanis," kata Akbar.

Halaman

(dnu/fjp)