Sejumlah Perusahaan Terapkan WFH, Tonase Sampah di Jakarta Turun

Eva Safitri - detikNews
Kamis, 09 Apr 2020 02:50 WIB
Puluhan warga mengais rejeki dari balik tumpukan sampah rumah tangga yang baru tiba dari DKI Jakarta di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Sumur Batu, Bantar Gebang, Bekasi. Mereka memilah sampah-sampah plastik yang bisa dikumpulkan untuk dijual dan diolah kembali menjadi bijih plastik dengan harga Rp 350 per/Kg. Dalam sehari mereka bisa mengumpulkan plastik tersebut sebanyak se-kwintal untuk dijual kembali pada pengepul. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi sampah menumpuk (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta -

Tonase atau berat sampah di Jakarta menurun selama adanya penerapan Work From Home (WFH) atau bekerja di rumah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih, mengungkapkan penurunan tonase mencapai 620 ton per hari.

Penurunan ini jika dibandingkan dengan data rata-rata harian periode 1-15 Maret 2020 sebelum penerapan WFH dengan rata-rata tonase sampah 16-31 Maret 2020 setelah penerapan WFH. Andono mengatakan penurunan aktifitas masyarakat berdampak juga terhadap berkurangnya timbunan sampah.

"Kebijakan bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah membuat sampah berkurang terutama dari sumber komersial, seperti dari hotel, mall, restoran, perkantoran, dan tempat wisata," kata Andono melalui keterangan tertulisnya, Rabu (9/4/2020).

Dia mengimbau agar masyarakat lebih giat dalam melakukan pengurangan sampah. Andono mengatakan ada tiga strategi yang bisa dilakukan di dalam rumah terhadap pengurangan sampah. Pertama yaitu strategi pintu depan pada tahap sebelum mengonsumsi.

"Kita harus tahu dan sadar apa yang mau kita konsumsi sejak dalam pikiran. Jika itu menghasilkan sampah, tak akan kita pilih," ujarnya.

Kedua, yaitu strategi pintu tengah, semua sisa barang tidak buru-buru dibuang ke tempat sampah, misalnya dengan mengambil makanan tidak berlebihan sehingga berpotensi menjadi sampah. Jika ada pakaian tidak terpakai atau makanan berlebih, dapat didonasikan ke yang membutuhkan.

Ketiga, yaitu strategi pintu belakang, lanjut Andono, yaitu bagaimana disiplin memilah sampah, misal sampah organik masuk ke komposer atau lubang biopori. Sampah anorganik yang dapat didaur ulang dikumpulkan sementara di rumah. Ketika wabah COVID-19 mereda dan situasi sudah relatif aman, maka dapat ditabung di bank sampah terdekat.

"Sampah anorganik, seperti kaleng, botol, kardus bekas, dapat disimpan sementara dan relatif aman karena tidak membusuk," katanya.

(eva/eva)