Dekat Kawasan Industri, President University Disebut Kampus Merdeka

Angga Laraspati - detikNews
Sabtu, 04 Apr 2020 15:32 WIB
Founder President University Setyono Djuandi Darmono
Foto: President University
Jakarta -

Peraturan kampus merdeka yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim masih menjadi hal yang dipertimbangkan oleh sebagian kampus. Namun, kampus merdeka ternyata sudah dipakai sejak dulu oleh salah satu kampus di daerah Jababeka yaitu President University.

Founder President University Setyono Djuandi Darmono mengatakan bahwa Nadiem Makarim sudah menganggap President University merupakan kampus merdeka sejak dulu. Karena memang di kampus tersebut, mahasiswa dibuat agar bisa melakukan kegiatan magang di perusahaan sembari menjalani kuliah,

"Kita kan di Cikarang, Jababeka itu kan hampir ada 2.000 pabrik, sehingga sangat tepat untuk menjadi kampus merdeka. Jadi kan kalau ada 2.000 pabrik, sama saja dengan 2.000 kampus kan? Karena mereka (mahasiswa) sambil bekerja sambil belajar," ujar Darmono kepada detikcom, Jumat (3/4/2020).

Darmono melihat saat ini permasalahan yang terkadang muncul adalah dari sekitar 4.000 kampus yang ada di Indonesia, lebih banyak mengajarkan teori dibanding praktek. Dirinya mengibaratkan anak yang sedang belajar berenang diajarkan teori terus menerus tetapi tidak ada praktek, anak tersebut pastinya tidak akan bisa berenang.

"Tapi kalau kita punya tempat prakteknya tetapi kurang mengerti teori, ya gapapa kita lempar saja ke kolam renang. Pasti dia akan belajar bernapas, habis itu bisa diajari teori, meluncur dulu, berbagai gaya renang, dan nantinya akan bisa berenang. Sama seperti kampus merdeka, itu adalah tempat di mana mahasiswa bisa berenang. Nah itulah gunanya kawasan industri yang dekat dengan universitas, karena kawasan industrilah kampus merdeka sebenarnya," jelas Darmono.

Memang, berada dekat dengan kawasan industri mendatangkan berbagai manfaat bagi President University. Salah satunya adalah President University lebih tahu dengan kebutuhan pasar, sehingga apabila terjadi perubahan pasar, pihak kampus bisa langsung mengetahui dari industri dan mengubah kurikulum sesuai dengan kebutuhan pasar itu sendiri.

"Jadi pabrik tuh bisa yang namanya, ini kita lagi butuh masker, bikin dong kurikulum membuat masker, ini lagi butuh ventilator bikin dong kurikulum ventilator, dan lain sebagainya. Jadi itulah keuntungan kita berada dekat dengan pabrik," ungkap Darmono.

Dalam pembelajaran di kampus pun, mahasiswa President University mengedepankan empat pilar untuk menguasai bahasa asing, memiliki pengalaman kerja, mempunyai kebiasaan dan perilaku yang baik, dan memberikan pengalaman internasional. Keempat hal itulah yang dijaga oleh President University selain juga memberikan perilaku untuk tidak mendebat orang lain tanpa memujinya terlebih dahulu.

"Sebenarnya itu semua yang selalu dicari di dunia kerja, coba kalau ke empatnya itu tidak ada. Jadi sebenarnya setiap mahasiswa itu harus bisa toleran, lalu juga teamwork, kerja yang baik, skillfull dan juga knowledgeable. Ada juga yang sangat kami tekankan di President University yaitu knowledge, attitude, skill, dan habits, karena pabrik sangat butuh sekali karakter seperti ini," imbuh Darmono.

President University juga membuka para mahasiswanya untuk menciptakan bisnis startup dengan menjalin kerja sama dengan berbagai negara seperti Vietnam, Jepang, China, dan lainnya. Hal ini dikarenakan negara-negara tersebut memang sudah memiliki pasarnya, tetapi Indonesia mempunyai SDM yang tepat untuk menjalankan bisnis tersebut.

"Jadi bisa saja nanti ada empat mahasiswa ingin membuka start up bikin usaha masker. Siapa tau 3 orang Indonesia tersebut punya keahlian masing-masing sedangkan 1 lagi bisa jadi orang Vietnam yang punya usaha orang tuanya yaitu membuat masker. Nah mereka di sini menjual masker tersebut ke orang-orang sekitar," pungkas Darmono.

(mul/ega)