Round-Up

Opsi Geser Hari Libur Nasional Bila Corona Belum Tertangkal

TIm detikcom - detikNews
Jumat, 03 Apr 2020 09:22 WIB
ilustrasi mudik naik motor
Foto: ilustrasi mudik naik motor (detikcom)

Untuk diketahui, banyak ahli yang memprediksi soal masa puncak dan akhir wabah Corona di Indonesia melalui beberapa pemodelan matematika. Prediksi itu dibuat oleh ITB hingga BIN.

ITB: Puncak Corona pertengahan April

Pemodelan fase puncak Corona salah satunya datang dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Seperti yang dilansir BBC, Kepala Pusat Pemodelan Matematika dan Simulasi ITB, Nuning Nuraini menjelaskan bahwa kasus COVID-19 di Indonesia bisa melampaui angka 8.000.

Nining bersama Simulasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam makalah bertajuk "Data dan Simulasi COVID-19 dipandang dari Pendekatan Model Matematika" memprediksi puncak kasus di Indonesia akan terjadi pada pertengahan April 2020.


Prediksi ini didapat menggunakan permodelan Kurva Richard yang terbukti cukup baik menentukan awal, puncak, dan akhir endemik SARS di Hong Kong pada 2003. Dalam makalah tersebut disebutkan, model ini mampu menggambarkan dinamika penderita COVID-19 pada setiap negara yang dianalisis.

ILUNI Matematika UI: Puncak Corona 16 April

Sementara itu, Ikatan Alumni Departemen Matematika Universitas Indonesia (ILUNI Matematika UI) juga membuat permodelan yang memprediksi fase puncak dan akhir wabah ini.

Pemodelan COVID-19 ini menggunakan sebuah model sederhana yang dikembangkan dengan model SIRU, Infected dan Unreported Case. Tim pembuatnya adalah Barry Mikhael Cavin, Rahmat Ali Kafi, Yoshua Yonatan H dan Imanuel M Rustijono.

Data yang digunakan untuk simulasi merupakan data kasus kumulatif dari tanggal 2 Maret hingga 29 Maret yang dipublikasikan oleh kawalcovid19.id. Data ini kemudian dihampiri dengan kurva eksponensial dan diestimasi dengan parameter X1, X2, X3. Asumsinya banyak orang yang terjangkit namun tak bergejala.

"Kita meyakini bahwa sebenarnya banyak orang yang terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala, seperti yang terjadi di negara lain," tulis Tim ILUNI Matematika UI dalam penjelasannya.


Berangkat dari kemungkinan orang yang terinfeksi dan kaitannya dengan physical distancing, mereka lantas membuat tiga jenis skenario berdasarkan laju interaksi antarmanusia tadi. Tiga skenario ini juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dan kedisiplinan masyarakat Indonesia. Begini skenarionya:

Berikut ini hasil yang diperoleh dari tiga skenario ini. Dengan tetap melanjutkan kondisi sekarang, maka skenario yang paling mungkin ialah skenario 2.

Skenario 1: Puncak pandemi terjadi tanggal 4 Juni dengan 11.318 kasus baru dan akumulasi kasus positif mencapai ratusan ribu kasus. Pandemi berakhir pada akhir Agustus-awal September.

Skenario 2: Puncak pandemi terjadi tanggal 2 Mei dengan 1.490 kasus baru dengan akumulasi kasus positif mencapai 60.000 kasus. Pandemi berakhir pada akhir Juni - awal Juli. Skenario 2 yang paling mungkin terjadi jika kondisi saat ini dilanjutkan (kebijakan kurang tegas dan masyarakat tidak disiplin).

Skenario 3: Puncak pandemi terjadi tanggal 16 April dengan 546 kasus baru dan akumulasi kasus positif 17.000 kasus. Pandemi berakhir pada akhir Mei- awal Juni.

BIN: Puncak Corona pada April ke Mei

Pemerintah pun punya versi lain soal fase puncak ini. Deputi V BIN Afini Boer mengungkap puncak penyebaran infeksi virus tersebut diprediksi terjadi 60-80 hari sejak pertama kali diumumkan atau pada April-Mei saat memasuki bulan Ramadhan.

"Jadi, kalau kita hitung-hitung, masa puncak itu mungkin jatuhnya di bulan Mei, berdasarkan permodelan ini. Bulan puasa, bulan puasa," kata Afini dalam diskusi 'Bersatu Melawan Corona' di Little League, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (13/3/2020).

Afini juga mencontohkan permodelan yang ada di China dan Inggris. Untuk kasus di Indonesia, permodelan dibuat sesuai data-data terkait Corona yang sudah ada.

"Di Indonesia sebetulnya bekerja sama dengan beberapa pihak, itu sama juga membuat permodelan dari data yang sudah ada. Dari permodelan yang ada, kita memperkirakan bahwa masa puncak di Indonesia itu akan berlaku 60-80 hari sejak infeksi pertama itu diumumkan tanggal 2 Maret," kata Afini.

Afini mengatakan data itu didapatkan dari permodelan yang dibuat dengan memperkirakan variabel yang terinfeksi dan yang sembuh. Selain itu, ada juga simulasi dari pemodelan itu yang telah dibuat beberapa minggu sebelumnya.


(rdp/rdp)