In Memoriam Bob Basan

Bob Hasan: Helikopter Nenek Lu?  

Sudrajat - detikNews
Rabu, 01 Apr 2020 14:57 WIB
Ketua Umum PB PASI Bob Hasan. file/detikFoto.
Bob Hasan (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Beberapa menit sebelum azan magrib berkumandang, Kijang Krista warna biru, B 7126 BQ, memasuki halaman rumah nan lapang di Jalan Senjaya I Nomor 94. Penumpangnya tak lain si pemilik rumah, Mohammad Bob Hasan. Petang itu, Jumat (20/2/2004), dia pulang setelah empat tahun 'nyantri' di Nusakambangan.

Tak ada karangan bunga, peluk mesra dari istri dan kedua anaknya. Apalagi pesta meriah untuk menyambut Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Maret - Mei 1998, itu. Pertiwi Hasan, sang isteri, dan kedua anaknya, bermukim di Autralia sejak Bob dipindahkan dari LP Cipinang ke Nusakambangan, 27 Maret 2001.

Bob yang mengenakan kemeja lengan panjang marun dan pantalon abu-abu tampak letih. Kedua bola matanya memerah dan berair. Toh begitu, belasan wartawan yang sudah menanti sejak siang seolah tak peduli. Mereka berebut melontarkan pertanyaan. Sambil melangkah pendek Bob tak kehilangan spontanitasnya setiap kali menjawab.

Ia antara lain menegaskan dirinya tak berniat kembali ke dunia bisnis. Dunia atletik yang sudah diopeni sejak 1980-an akan kembali menjadi fokus aktivitasnya. Dia juga akan sowan ke sohib yang juga seniornya, Jenderal Besar Soeharto di Jalan Cendana.

Dari Nusakambangan, Bob memutuskan menempuh jalur darat. Dia harus singgah ke makam ayah angkatnya, Jenderal Gatot Subroto, di Ungaran. Dari situ dia mampir makan siang di Warung Sate 29 langganannya di Jatingaleh, Semarang. "Iya, makan sate kambing 20 tusuk," ujar The Kian Seng, nama lain Bob Hasan.

Dari Bandara Ahmad Yani, lelaki kelahiran Semarang, 24 Februari 1931 itu menumpang Garuda menuju Jakarta. Di Soekarno - Hatta, petugas Lapas menjemputnya dengan Kijang Krista.

"Kenapa tak naik helikopter," tanya saya yang kala itu bekerja untuk Tempo. "Pake heli dari mana, heli nenek lu? Elu yang bayar?" Bob menukas dengan ketus.

Ia lalu bergegas masuk ke rumah. Para pembantunya langsung menutup rapat pintu rumah. Kami pun digiring ke luar halaman.

Saat menunggu kedatangan Bob, beberapa rekan wartawan sempat galau. Ada yang mendapat info, Bob tak akan pulang ke Senjaya tapi Ciganjur. Di sana dia punya rumah yang dilengkapi lapangan golf. Tepatnya di Matoa, dekat perbatasan Depok.

Untuk memastikan, saya mengontak Muchlis Hasyim. Wartawan senior di Media Indonesia itu dikenal punya hubungan sangat dekat dengan Bob Hasan. "Nanti ada pengajian bareng anak-anak yatim di Senjaya kok," ujar Muchlis.

Nama Bob Hasan kembali riuh disebut seiring prestasi yang dicapai Lalu Muhammad Zohri. Sprinter kelahiran Lombok Utara, 1 Juli 2000 itu menjadi pelari tercepat di nomor 100 meter pada kejuaraan Dunia U20 IAAF, di Tampere, Finlandia, 11 Juli 2018. Bob 'Dewa Penyelamat' di balik prestasi sensasional Zohri. Dia memperhatikan kebutuhan fisik, gizi, juga isi kepala, dan jiwa Zohri.

Tanpa belas kasih dan campur tangan Bob Hasan, Zohri mustahil menjadi juara dunia. Kenapa? Dia tak mendapatkan visa dari Kedutaan Finlandia karena masalah kelengkapan administrasi. Maklum, Lalu Ahmad Yani dan Saeriah, kedua orang tua Zohri, sudah berpulang sejak anak bungsunya itu masih di bangku sekolah dasar.

"Dia hampir tak bisa berangkat karena anak yatim piatu. Saya yang mesti tanggung semua. Jika tidak, ya tidak dapat visa," kata Bob.

Bob pula yang menyadarkan khalayak agar tak memuji Zohri berlebihan. Dia yang berpuluh tahun bergaul dengan para atlet paham betul, pujian berlebihan dapat melenakan si atlet. "Jangan dipuji-puji nanti kepalanya besar, jadi tegang, malah kalah," katanya.

Tanpa banyak cing-cong, Bob Hasan juga menyiapkan bonus khusus. Tapi berkaca pada pengalaman di masa lalu, hadiah atau bonus tak akan diberikan gelondongan begitu saja, serta-merta. Masa jaya seorang atlet biasanya amat singkat. Apalagi seorang Zohri masih tergolong amat beliau. Dia masih harus melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Karena itu, bonus untuk Zohri, bisa dicairkan hanya jika digunakan sebagai modal investasi.

"Biasanya kami kasih tapi itu tabungan untuk hari depan. Seperti, Emilia Nova (atlet lari gawang dan sapta lomba). Dia mendapat bonus Rp 1 miliar. Tapi, dia tidak dapat ambil kecuali untuk usaha atau investasi," ujar Bob.

Bob dan atletik ibarat sekeping mata uang. Sejak era 1980-an namanya identik dengan dunia atletik. Dia menggagas "Bali Ten K" atau Bali 10 Kilometer. Lomba lari dengan hadiah Rp 100 juta (paling besar kala itu), sehingga diminati para pelari dunia. Bob menggelar hajatan itu bukan sekedar ingin memasyarakatkan dan memajukan atletik, tapi juga dunia pariwisata kita.

Dengan rekam jejak semacam itu, saya bersama Tim Blak-blakan memasukkan nama Bob Hasan ke dalam daftar tokoh yang wajib diwawancara. Rencana itu sudah disampaikan ke Muchlis saat kami bertemu untuk mewawancarai Ketua Umum PSSI Komjen M. Iriawan di Hotel Sultan, November lalu.

Sayang, rencana tersebut belum sempat diwujudkan hingga Selasa (31/3) kemarin, Bob Hasan berpulang. Selamat beristirahat, Pak Bob!

(jat/jat)