India dan Kebijakan Lockdown yang Berujung Kacau Balau

Tim detikcom - detikNews
Senin, 30 Mar 2020 17:54 WIB
Penduduk India mulai jalani lockdown di tengah lonjakan kasus Corona di negara itu. Milyaran warga India dikarantina guna memutus rantai penyebaran COVID-19.
India Lockdown malah justru kacau balau (Foto: Getty Images)
Jakarta -

India dilanda prahara saat belum genap sepekan negara itu memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona atau COVID-19. Dikutip dari Deutsche Welle (DW) setelah resmi diberlakukan sejak Selasa, 24 Maret 2020 pekan lalu, ribuan buruh harian di kota-kota besar justru kehilangan pekerjaan dan berbondong-bondong pulang kampung.

Akibatnya, justru terjadi penumpukan warga di stasiun-stasiun kereta serta terminal bus. Sementara sarana transportasi yang ada sangat terbatas. Perusahaan Kereta Api India menghentikan jadwal perjalanan mulai 23 Maret hingga 31 Maret besok.

Sayangnya beberapa hari sebelum jadwal perjalanan kereta dihentikan, ratusan ribu pekerja migran sudah meninggalkan kota-kota yang terdampak wabah virus corona, seperti Delhi, Mumbai, dan Ahmedabad. Mereka umumnya pulang ke desa-desa di Negara Bagian Uttar Pradesh dan Bihar.

Ada juga ribuan buruh migran dalam rombongan besar memilih berjalan kaki meninggalkan kota-kota besar menuju kampung halaman. Seorang buruh migran dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu kemarin, setelah kelelahan akibat berjalan sejauh 270 mil (270km) kembali ke kampung halaman.

Kebijakan lockdown di India justru memicu konsentrasi di beberapa titik. Warga juga menyebar dari kota yang terjangkit wabah ke desa yang belum terkena.

Masih dikutip Deutsche Welle (DW) peristiwa tersebut justru meningkatkan risiko penularan ke warga lainnya. Sejumlah pakar khawatir India justru akan menghadapi tantangan berat dalam dua pekan mendatang.

Pemerintah pusat India di New Delhi meminta pemerintahan negara bagian menghentikan laju migrasi massal para pekerja harian tersebut. Mereka diminta memberikan bantuan seperti akomodasi dan penampungan darurat selama masa lockdown yang rencananya akan diberlakukan hingga 14 April yang akan datang itu.

Pada Sabtu, 29 Maret lalu pemerintah negara bagian Uttar Pradesh mengirim hampir 200 bus untuk mengembalikan pekerja migran ke tempat asal mereka. Pemerintah juga mengirim tim medis untuk menyaring penumpang bus di halte-halte bus. Namun tidak tersedia cukup bus untuk semua yang ingin naik.

Masalahnya, tak hanya soal migrasi yang dihadapi India pasca memberlakukan lockdown. Negeri Dewi Gangga itu juga dilanda kekisruhan akibat warga berebut memborong kebutuhan bahan pokok dan obat-obatan. Walhasil justru terjadi antrean yang padat di supermarket dan toko obat.

Perdana Menteri India Narendra Modi sudah memberikan pernyataan terkait kekacauan yang timbul akibat kebijakan lockdown tersebut. Menurut dia tak ada cara lain untuk mencegah penyebaran virus corona selain lockdown.

Dia pun telah meminta maaf kepada warga atas kebijakan tersebut. "Mungkin banyak yang akan marah kepada saya karena dikurung di rumah mereka. Aku mengerti masalahmu tetapi tidak ada cara lain untuk berperang melawan virus corona ... Itu adalah pertempuran hidup dan mati dan kita harus memenangkannya," kata Modi seperti dikutip dari BBC.

Hingga Minggu, 29 Maret kemarin India melaporkan ada sekitar 1000 kasus warga terkena virus corona atau Covid-19. Diperkirakan jumlah tersebut akan terus meningkat. Sebagai konsekuensi atas kebijakan lockdown, Pemerintah India memberikan paket stimulus senilai 22,7 miliar dollar AS. Paket bantuan itu termasuk pengiriman biji-bijian dan lentil kepada 800 juta warga miskin India selama 3 bulan untuk mengurangi beban ekonomi warga.

(erd/lus)