Perawat RS Persahabatan Diusir dari Kos, KSP: Tidak Boleh Ada Diskriminasi

Matius Alfons - detikNews
Rabu, 25 Mar 2020 06:51 WIB
RSUP Persahabatan jadi salah satu rumah sakit yang disiapkan untuk tangani pasien terinfeksi virus corona. Ruangan khusus pun disiapkan di rumah sakit tersebut.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pemerintah menyayangkan adanya tindakan pemilik kos yang mengusir seorang perawat yang menangani Corona di RS Persahabatan. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KPS) Donny Gahral Adian menegaskan tidak boleh ada diskriminasi masyarakat terhadap para petugas medis.

"Tidak boleh ada stigma, tidak boleh ada diskriminasi ya. Artinya kita semua dalam kondisi seperti ini tidka boleh kemudina menyingkirkan, meminggirkan, dan memarginalisasi mereka," kata Donny saat dihubungi, Selasa (24/3/2020).



Donny meminta agar masyarakat justru saling membantu siapapun yang sedang mengkarantinakan diri. Dia juga menyebut mereka yang ditengarai terjangkit juga seharusnya diantar ke rumah sakit sambil tetap memperhatikan jarak.

"Mereka yang ditengarai positif, kita harus bantu mereka mengkaratinakan diri, mempersiapkan logistik unutk mengkarantina diri, dan megantar mreka yang sakit ke RS dengan jarak yang cukup. Ya begitu begitu kita harus saling tolong menolong," ucap Donny.

Donny meminta masyarakat tidak khawatir karena pemerintah serius dalam melindungi tenaga medis dan memberikan yang terbaik untuk tenaga medis.

"Pertama jangan ada stigma diskriminasi, menyingkirkan dan sebagainya, yang kedua sebenernya fasilitas tenaga medis itu sudah disiapkan pemerintah dan pemerintah serius dalam melindungi tenaga medis melindungi yang terbaik untuk tenaga medis," ujarnya.



Diberitakan sebelumnya perawat pasien Corona (COVID-19) di RS Persahabatan mendapat stigma di lingkungan tempat tinggalnya. Mereka dianggap pembawa virus sehingga terpaksa harus tinggal di rumah sakit karena diminta meninggalkan kamar kosnya.

"Kami mendapat laporan dari perawat itu bahwa ada teman-temannya tidak kos lagi di sana, di tempat kosnya. Karena setelah diketahui rumah sakit tempat bekerjanya tempat rujukan pasien COVID-19. Mereka sekarang, saya sudah tanya mereka, tinggalnya di rumah sakit dulu," kata Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia Harif Fadhilah kepada detikcom, Selasa (24/3) siang.

Harif mengatakan pihak manajemen rumah sakit sedang berusaha mencarikan tempat tinggal untuk perawat yang jadi korban stigma tersebut. "Sementara dan pihak manajemen rumah sakit sedang berusaha mencarikan tempat tinggal yang layak untuk mereka bisa transit," sambung Harif.

(maa/dwia)