Round-Up

Ramai-ramai Kritik Gatot soal Makmurkan Masjid saat Corona Mewabah

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 20 Mar 2020 05:44 WIB
Jenderal Gatot Nurmantyo saat hadiri acara Blak-blakan detikcom
Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo (Foto: Rachman Haryanto)

Majelis Ulama Indonesia (MUI) lantas angkat bicara atas pernyataan Gatot itu. Wasekjen MUI Misbahul Ulum awalnya menanggapi pernyataan Gatot yang menyebut di China banyak orang yang bukan beragama Islam ramai-ramai mendatangi masjid dan belajar wudu hingga ikut salat berjemaah. Menurutnya, itu perlu didalami lagi apakah benar atau tidak.

Misbahul kemudian bicara soal ajakan Gatot agar umat Islam tetap memakmurkan masjid dan salat berjemaah di tengah wabah Corona. Dia mengatakan Islam adalah agama yang rasional.

"Kita memang lari dari taqdir, tapi menuju taqdir yang lebih baik, kan seperti itu. Jadi pandangan MUI sebagaimana terdapat dalam fatwa itu sangat rasional dan tidak dalam rangka menjawab pandangan orang per orang," katanya saat dihubungi detikcom via telepon, Rabu (18/3).

"Jadi, Nabi pernah menyampaikan kalau ada wabah di suatu tempat, orang luar dilarang masuk, dan orang dalam tidak boleh keluar. Nabi memberi penghargaan kepada orang yang meninggal di daerah terjangkit wabah sebagai orang yang mati syahid, dan itu tidak berarti kita di suruh masuk ke daerah dimaksud agar mati syahid, tidak demikian," sambungnya.

Komentar juga datang dari Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh. Niam menyebut semangat keagamaan harus disertai pemahaman secara utuh.

"Jadi prinsipnya di dalam kehidupan beragama itu semangat keagamaan saja tidak cukup, semangat keagamaan harus disertai dengan pemahaman keagamaan secara utuh dan komprehensif," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh, di kantor BNPB, Jl Pramuka, Utan Kayu Utara, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (19/3).

Dia mengatakan, dalam aturan hukum Islam, ada hukum yang seharusnya, tetapi ada juga hukum yang sesuai dengan kondisi faktual, atau yang biasa disebut 'azimah' dan 'rukhsah'. Dia mencontohkan syarat dalam salat fardu.

"Termasuk di dalamnya salat fardu. Salat fardu itu kan salah satu syaratnya harus berdiri, tapi jika mampu. Kalau ternyata dia nggak mampu, ya nggak dipaksakan untuk berdiri," ujar dia.

Pendapat yang hampir sama juga disampaikan Muhammadiyah. Salat berjemaah di masjid disarankan untuk tidak dilakukan sementara karena situasi darurat.

"Kalau dari kami mengimbau tetap supaya mengurangi kegiatan berkumpulnya massa. Karena pada kondisi darurat memang kemarin sedang dibicarakan oleh tim kalau dari Muhammadiyah, ada Majelis dan Fatwa, itu yang sedang diskusikan tetapi saat ini memang sementara mengimbau untuk menghindari kegiatan berkumpul massa, terlepas itu memang untuk salat Jumat kita mengimbau sebaiknya dihindari karena kita tidak tahu apakah ada orang yang terkena atau tidak, kan seperti itu," kata pemimpin Muhammadiyah COVID-19 Command Center, dr Corona Rintawan, saat dihubungi, Kamis (19/3).

dr Corona mengkhawatirkan seorang jemaah yang terinfeksi virus Corona dapat menularkan virus ke jemaah lain. Di sisi lain, pemeriksaan laboratorium Corona di Indonesia juga masih terbatas.

"Jadi memang itu kita namakan super infeksi, jadi kenapa kita mengimbau untuk membubarkan atau membatalkan semua cara keramaian massa, karena pemeriksaan lab terbatas belum bisa dilakukan secara massal, jadi kita memang belum tahu apakah yang hadir itu 100 persen bebas COVID-19 atau tidak," ujar dia.

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2 3