Razia di GT Priok, Kakorlantas: 10% Kecelakaan di 2019 Akibat Truk ODOL

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Senin, 09 Mar 2020 13:20 WIB
Kakorlantas lakukan penindakan truk obesitas di GT Tanjung Priok. (Foto: Luqman/detikcom)
Foto: Kakorlantas lakukan penindakan truk obesitas di GT Tanjung Priok. (Foto: Luqman/detikcom)
Jakarta -

Kakorlantas Polri Irjen Istiono menyambangi Gerbang Tol (GT) Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kedatangan Istiono merupakan bagian dari operasi penindakan razia Over Dimensi dan Over Load (ODOL).

Istiono menggelar penindakan bersama Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi, Kementerian PUPR dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ). Istiono mengatakan penegakan hukum itu dilatarbelakangi tingginya angka kecelakaan karena kendaraan kelebihan muatan.

"Dalam kurun waktu 2019, data pelanggaran lalu lintas yang terjadi di kita itu sebanyak lebih kurang 1 juta 300-an lebih," kata Istiono di Gerbang Tol Tanjung Priok 1, Jakarta Utara, Senin (9/3/2020).

"Pelanggaran lalu lintas 136 ribu, 10 persen dilakukan oleh kapasitas kelebihan dari dimensi tersebut. Dan awal dari pelanggaran di sini yang terjadi di sini adalah perlambatan selain overload juga perlambatan di jalan tol dan di ruas-ruas jalan arteri," sambungnya.

Razia di GT Priok, Kakorlantas: 10% Kecelakaan di 2019 Akibat Truk ODOLFoto: Kakorlantas lakukan penindakan truk obesitas di GT Tanjung Priok. (Foto: Luqman/detikcom)

Lebih lanjut, Istiono mengatakan, sepanjang 2019 ada 90 kecelakaan akibat ODOL. Total korban mencapai 25.000 jiwa dengan rata-rata kematian 7 korban per hari.

"Korban kecelakaan di tahun 2019 sebanyak 25.000. Rata-rata per bulan sebanyak 2.000 jiwa rata-rata dan rata-rata per hari 7 jiwa. Tiap jam 3-4 jiwa melayang dan sumbangsih dari over load dan over dimensi memang 90 kejadian tahun ini, namun ini laka-nya laka massal dan fatal," kata Istiono.

Istiono mengungkapkan, mayoritas kecelakaan terjadi pada dini hari hingga subuh. "Tabrak belakang kebanyakan. Pagi-pagi jam 03.00, 04.00 jebret belakang habis. Kadang-kadang tabrak beruntun. Dipikir dia kencang karena pelanggar tidak bisa menempuh waktu minimal 60 km/jam di jalan tol," ujarnya.

Pantauan detikcom, Istiono dan Dirjen Perhubungan Darat Budi Setiyadi tampak ikut menindak sejumlah truk yang lewat. Truk tersebut ditimbang dan diukur dimensinya untuk mengetahui apakah truk tersebut kelebihan muatan. Setidaknya ada 10 truk yang melanggar dan diberi stiker berwarna merah.

Kementerian Perhubungan mulai Senin (9/10) melakukan penindakan terhadap truk obesitas dari Tol Tanjung Priok sampai Bandung. Langkah ini diambil untuk menyongsong Indonesia bebas ODOL 2023.

(mae/mae)