AHY-Ibas Calon Kuat Ketum PD, SBY Diingatkan Kekalahan Klan Rais di PAN

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Senin, 24 Feb 2020 17:30 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan pidato refleksi akhir tahun di JCC, Jakarta, Rabu (11/12/2019).
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diingatkan soal kekalahan Hanafi Rais dalam pemilihan pimpinan PAN yang baru terkait calon kuat Ketum PD. Meski dilema, SBY diharapkan bisa meramu pilihan yang tepat agar tak timbul gejolak di internal partainya.

"Dan yang perlu kita ingat lagi, ini ada kejadian di PAN, trahnya Pak Amien itu bisa kalah begitu. Walaupun sampai detik ini kita belum tahu Hanafi Rais diberikan tempat atau tidak kan kita belum tahu ya," kata pengamat politik Rico Marbun di kawasan Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (24/202020).

"Tapi itu terjadi di PAN lho, saya pikir itu dipikirkan juga oleh Pak SBY, bagaimana meramu pilihan tepat supaya tidak ada gejolak di dalam partai," imbuhnya.



Tantangan SBY, menurut Rico, adalah memastikan kedua putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhi Baskoro Yudhoyono (Ibas), akur dalam hubungan saudara ataupun politik. Rico mengatakan SBY perlu memikirkan pembagian yang tepat untuk kedua putranya itu.

"Jadi ada pembagian yang jelas nih, kalau AHY ditaruh nomor 1, apakah Ibas-nya nomor 2 atau bagaimana. Tapi kalau nomor 1 (dan) nomor 2-nya satu keluarga itu kan repot juga kan. Itu jadi aneh juga. Apakah misalnya formatnya ketua harian kan bisa juga. Saya pikir itu yang lagi dipertimbangkan," ujar Rico.

Rico pun membandingkan kans kakak-adik AHY-Ibas dalam memimpin partai. Ibas dinilainya lebih berpengalaman dalam politik.

"Kan kita tahu kalau Ibas tentu secara track record dia lebih punya pengalaman di partai. Dia caleg tiga kali kalau nggak salah, kemudian dia ketua fraksi, dia pernah jadi sekjen. Artinya dia sudah pernah jadi orang nomor 2 (di partai), jadi kalau jadi orang nomor 1 itu kan sudah paripurna. Dia curriculum vitae-nya sudah lengkap," jelas Rico.

Selanjutnya
Halaman
1 2