Rentetan Suara-suara Kontroversial Orator Aksi 212

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 22 Feb 2020 10:32 WIB
Massa Aksi 212 mulai berdatangan. Mereka memenuhi kawasan Masjid Istiqlal hingga Monas.
Foto: Pradita Utama, Sachril Agustin Berutu

'Jatuhkan Jokowi'

Seorang orator aksi 212 dari Forum Ukhuwah Islamiah Sulawesi Selatan, Abdullah Maher, menyinggung 'jatuhkan Jokowi' dalam orasinya.

Abdullah Maher dengan berapi-api meminta agar praktik-praktik korupsi di Indonesia disikat habis. Dia meminta agar koruptor ditindak sesuai hukum yang berlaku.

"Kami dari Sulsel alhamdulillah pada waktu yang lalu melakukan aksi yang sama di depan gedung DPRD Sulsel menuntut para koruptor yang ada di Jiwasraya, Asabri, dan lainnya untuk ditegakkan hukum sesuai dengan hukum yang berlaku," katanya, Jumat (21/2).

Di akhir orasinya, dia berseru solusi untuk itu adalah revolusi dengan menjatuhkan Presiden Jokowi dari jabatannya.

"Hanya satu, solusinya adalah revolusi, jatuhkan Jokowi karena sumber malapetaka. Allahu Akbar," serunya diikuti takbir oleh massa.

Atas pernyataan itu, polisi angkat bicara. "Silakan aja, kalau ada yang melapor dan bawa barang bukti ya silakan, nggak ada masalah," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus ketika dihubungi detikcom, Jumat (21/2/2020) malam.

Yusri tak menjelaskan apakah orasi dari Abdullah Maher termasuk makar atau tidak. Hal itu dikarenakan ia belum mendengarkan orasi secara utuh.
"Nggak denger itu, nggak denger kalau itu, nanti aja itu juga pasti ada yang laporan itu. Kita belum denger," kata Yusri.

Istana menganggap orasi tersebut kelewatan. "Jadi saya kira demonstrasi, unjuk rasa itu termasuk kebebasan berpendapat dan dilindungi UU tetapi ada batasnya. Jika mengarah kepada hal-hal yang sifatnya inkonstitusional, tentu saja ini tidak benar, tidak bisa dibenarkan," kata Tenaga Ahli Utama KSP Donny Gahral Adian saat dikonfirmasi, Jumat (21/2/2020) malam.

"Kalau ingin memberikan koreksi atau catatan atau masukan terhadap pemerintah, silakan saja. Tapi kalau menjatuhkan pemerintahan yang sah itu sesuatu yang saya kira kelewatan dan inkonstitusional," sebut Donny.

Sementara Persaudaraan Alumni (PA) 212 menilai hal itu sebagai pernyataan pribadi, bukan mewakili suara massa. "Pernyataan pribadi beliau itu," ujar Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif lewat pesan singkat kepada detikcom, Jumat (21/2/2020) malam.

Slamet memastikan tujuan utama aksi 212 adalah untuk mengkritisi praktik-praktik korupsi yang dianggap masih sering terjadi. Ia menduga pernyataan Abdullah Maher mewakili 'isi hati' warga Sulawesi Selatan. "Ungkapan hati kali itu," sebut Slamet.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4