Round-Up

Kejutan Intermeso Usulan Fatwa Nikah Si Kaya untuk Si Miskin

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 21 Feb 2020 05:14 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy (Andhika Prasetia/detikcom)
Foto: Menko PMK Muhadjir Effendy (Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Menko PMK Muhadjir Effendy mengusulkan fatwa si kaya menikahi si miskin. Kejutan, ternyata ide itu hanyalah intermeso atau selingan pidato.

Dirangkum detikcom, Kamis (20/2/2020), Muhadjir Effendy awalnya menyarankan Menteri Agama Fachrul Razi mengeluarkan fatwa soal orang kaya menikahi orang miskin. Saran ini dia sampaikan ketika berbicara program pranikah untuk mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia, dalam sebuah suasana intermeso.

Data rumah tangga miskin di Indonesia mulanya dibahas Muhadjir. Rumah tangga di Indonesia per 2019 lebih dari 57 juta.

"Rumah tangga Indonesia per 2019 itu 57.116.000. Yang miskin 9,4 persen, itu sekitar 5 juta. Jadi 5 juta rumah tangga Indonesia itu miskin. Kalau ditambah, saya tidak tahu normalnya BPS kita, itu hampir miskin. Kalau ditambah hampir miskin, 16,8 persen. Itu hampir 15 juta. Hampir miskin itu tidak miskin, tapi lebih mudah jadi miskin daripada jadi kaya. Itu namanya hampir miskin," kata Muhadjir dalam sambutannya di acara Rapat Kerja Kesehatan Nasional di JIExpo.

Dia kemudian menjelaskan soal perintah ajaran agama Islam untuk menyelamatkan keluarga dari kekufuran. Dalam ajaran Islam, kata dia, kemiskinan itu dekat dengan kekufuran.

"Makanya saya mohon, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari neraka. Neraka itu beragam bentuk penyakit dan kemiskinan. Dan miskin itu mengarah pada kekufuran. Kufur itu pengingkaran. Jadi, kadla al fakiru an yakum kufron. Kadla itu bukan kadal. Apalagi kadal gurun. Kadla fakhru itu hampir pasti yakuna fukron, fakir," ucap Muhadjir.

"Karena itu, Kemenko PMK menginisiasi, dengan Kemenkes, Kementerian Agama, Kemendes itu menangani masa sebelum berkeluarga atau pranikah. Kita selamatkan mulai dari mereka sebelum menikah," sambungnya.

Muhadjir menilai selama ini ajaran soal menikah sekufu dalam Islam kerap disalahartikan. Akibatnya, orang miskin menganggap yang sekufu ialah orang miskin juga. Padahal, menurut Muhadjir tidak seperti itu. Kemudian Muhadjir mengusulkan agar Menteri Agama Fachrul Razi mengeluar fatwa orang miskin wajib mencari jodoh yang kaya.

"Di Islam ini ada istilah agama yang disalahartikan, kalau mencari jodoh, yang sekufu. Setara. Apa yang terjadi? Orang miskin sama-sama cari yang miskin. Akibatnya, jadilah rumah tangga miskin baru. Maka mbok disarankan, dibikin Pak Menteri Agama, ada fatwa yang miskin wajib cari yang kaya," ujar Muhadjir yang langsung disambut gelak tawa hadirin.

Mantan Mendikbud itu kemudian menjelaskan lebih jauh mengenai usulannya.

Usai pernyataannya terkait usul fatwa 'si kaya menikahi si miskin', Muhadjir menjelaskan maksudnya. Dia menyebut pernyataan itu sekadar intermeso saja.

"Itu kan intermeso. Fatwa kan bahasa Arabnya anjuran. Anjuran, saran. Silakan saja. Saya minta ada semacam gerakan moral bagaimana agar memutus mata rantai kemiskinan itu, antara lain supaya si kaya tidak memilih-milih, mencari jodoh atau menantu yang sesama kaya. Jadi gerakan moral saja," kata Muhadjir di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (20/2/2020).

Muhadjir mengamati ada fenomena di mana kecenderungan seseorang untuk menikah dengan yang memiliki kondisi ekonomi setara, misal si kaya dengan si kaya, atau si miskin dengan si miskin. Fenomena inilah yang menurut Muhadjir lahirnya keluarga miskin baru.

"Salah satu yang saya amati walaupun belum penelitian mendalam, perilaku ini adalah dipengaruhi perilaku masyarakat di mana orang mencari kesetaraan. Yang kaya mencari sesama kaya, yang miskin juga cari sesama miskin. Karena sesama miskin, lahirlah keluarga baru yang miskin," ujarnya.

Namun usulan tersebut masih sebatas intermeso. Muhadjir menegaskan usulan dalam fatwa tidak bersifat wajib.

"Nggak. Mana ada anjuran mengikat? Jangan seolah dipelesetkan jadi wajib," ujar Muhadjir.

(gbr/knv)