Ogah Mengemis, Pria Disabilitas Ini Malah Hidupi Keluarga Sejak SD

Nurcholis Maarif - detikNews
Kamis, 20 Feb 2020 19:18 WIB
Grab
Foto: Grab
Jakarta -

Cahyo Widodo ditinggal wafat ayahnya sejak duduk di bangku kelas 4 SD. Setahun kemudian ibunya juga meninggal dan sejak saat itu ia harus menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, bahkan pernah mengalami jatuh bangun usaha.

Ia yang tinggal di Salatiga lalu memutuskan bekerja di Semarang menjahit permak tas dan pakaian. Pekerjaan ini dilakoninya hampir selama 5 tahun hingga akhirnya ia memutuskan membuka warung pulsa dan sembako untuk menambah penghasilan.

"Saya pertama masuk kelas 4 SD ditinggal orang tua saya, bapak, baru satu tahun ditinggal ibu, gimana saya bisa jadi tulang punggung keluarga? akhirnya saya bekerja sampai 5 tahun di Semarang menjahit permak tas dan pakaian," Dodo, panggilan akrabnya, seperti dilansir dari YouTube GrabKios, Kamis (20/2/2020).

"Setelah itu, saya kan pengennya di rumah, pada waktu itu ditawarin jual pulsa (sama GrabKios), terus saya mendirikan gubuk kecil-kecilan. Saya bersyukur GrabKios bisa menambah penghasilan," imbuhnya.

Dodo mengatakan punya cita-cita ingin selalu memberi dan tak mau meminta-minta meski dirinya disabilitas. Ia menceritakan sejak kecil, jika ingin jajan, ia harus lebih dulu mengumpulkan batu-batu kecil untuk dijual.

"Saya dulu pas waktu kecil itu mau jajan aja mencari batu kecil-kecil itu dijual, uang saya buat jajan dan untuk lainnya. Harapannya, ke depan biar anak dan istri apa yang diinginkan tercapai," ujar Dodo.

"Walaupun saya sakit cacat, tapi cita-cita saya menjadi orang nggak mau meminta, kalau bisa mengasihkan gitu," imbuhnya.

Dakwan, adik Dodo, jadi saksi bagaimana sang kakak jatuh bangun menjadi tulang punggung keluarga. Menurutnya. Dodo merupakan pekerja keras dan ia bersyukur kakaknya bisa menjadi tulang punggung keluarga yang baik.

"Mas Dodo itu pekerja keras. Walaupun dulu buka warung terus bangkrut, buka lagi, bangkrut lagi, akhirnya permak tas sambil jualan pulsa, segala macam jualan sembako. Ada kemajuan bisa membantu saya dan tulang punggung keluarga yang baik," ujarnya.

Simak Video "Cerita Sandi Ironi, Difabel Perajin Barongsai"

[Gambas:Video 20detik]



(akn/ega)