Tinjau Bangunan Pascagempa di NTB, Ma'ruf: Mudah-mudahan Warga Puas

Dwi Andayani - detikNews
Rabu, 19 Feb 2020 17:04 WIB
Wakil Presiden Maruf Amin meninjau rekonstruksi bangunan pascagempa di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ma'ruf Amin meninjau rekonstruksi bangunan pascagempa (Foto: Dwi Andayani/detikcom)
Mataram -

Wakil Presiden Ma'ruf Amin meninjau rekonstruksi bangunan pascagempa di Nusa Tenggara Barat (NTB). Ma'ruf menyebut sebagian besar rumah yang rusak telah terbangun.

Pantauan detikcom di lokasi, peninjauan dilakukan di Desa Gontoran Barat, Rt 01, Kota Mataram, Rabu (19/2/2020). Ma'ruf melakukan peninjauan ditemani istrinya, Wury Ma'ruf Amin.

Selain itu, Ma'ruf juga didampingi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, Gubernur NTB Zulkieflimansyah dan Komandan Resor Militer (Danrem) 162/Wira Bhakti Kolonel Czi Ahmad Rizal Ramdani.

Dalam kunjungannya, Ma'ruf sempat diperlihatkan data grafik percepatan pembangunan, progres rehab rekonstruksi hingga dokumentasi pembangunan yang dipasang di papan. Tidak hanya itu, Ma'ruf juga masuk dan melihat ke dalam rumah yang baru dibangun.

Simak juga video Tingkat Kepuasan Kinerja Ma'ruf Jauh Lebih Rendah dari Jokowi:

Ma'ruf menyebut, sebagian besar rumah sudah kembali terbangun. Dia mengatakan pemerintah terus berusaha melakukan perbaikan, dan berharap masyarakat puas dengan hasil yang diberikan.

"Melihat hasil rehabilitasi pembangunan rumah-rumah masyarakat, saya melihat bahwa hampir seluruhnya sebagian besar sudah terbangun," kata Ma'ruf.

"Mudah-mudahan masyarakat puas dengan hasil pembangunan ini. Pemerintah tentu ingin berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk masyarakat, supaya punya rumah lagi bisa menempati lagi," sambungnya.

Ma'ruf menuturkan dari 226 ribu rumah yang rusak, sebanyak 200 ribu rumah sudah berhasil dibangun. Menurutnya, kendala pembangunan karena perlu diadakannya pembaruan data akibat gempa susulan.

"Secepatnya, sekarang sisanya tidak banyak, yang sudah selesai sudah 200 ribuan, jadi tidak sedikit. Sisanya ini (belum terbangun) karena ada pergantian, pembaruan data sehingga memerlukan waktu," tuturnya.

(dwia/knv)