Kemenhub Tunjuk Pelindo III Perkuat Pasar Maritim di Selat Malaka

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Rabu, 19 Feb 2020 10:49 WIB
Pelindo III
Foto: Pelindo III
Jakarta -

Kementerian Perhubungan menunjuk BUMN Pelindo III untuk memberikan pelayanan jasa pemanduan dan penundaan kapal di Selat Malaka, Selat Phillip, dan Selat Singapura. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan sektor maritim di pasar internasional.

Kasubdit Pemanduan dan Penundaan Kapal Direktorat Kepelabuhanan Kemenhub Agus Arifianto mengatakan perairan tersebut merupakan wilayah perairan pandu luar biasa alur pelayaran Traffic Separation Scheme (TSS) yang berbatasan dengan batas negara tetangga, yakni Malaysia dan Singapura.

"Hari ini merupakan momen bersejarah, setelah melalui berbagai tahapan yaitu evaluasi kinerja, sarana prasarana, dan SDM. Pelindo III dipercaya untuk melayani pemanduan, terutama di TSS. Hal ini penting karena pasar global semakin bersaing," ujar Kasubdit Pemanduan dan Penundaan Kapal Direktorat Kepelabuhanan Kemenhub Agus Arifianto dalam keterangannya, Senin (19/2/2020).

"(Oleh karena itu) layanan pemanduan perairan Selat Malaka harus dilaksanakan dengan service excellent, sebagai penegasan untuk menjaga ketahanan dan suplai logistik Indonesia," imbuhnya,

Sementara itu, Direktur Teknik Pelindo III Joko Noerhudha mengapresiasi kinerja strategis Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub dan Kementerian Luar Negeri yang telah berhasil untuk tidak hanya mengokohkan kedaulatan wilayah teritorial Indonesia, tetapi juga membuka peluang pendapatan bagi industri maritim nasional.

"Pelindo III akan terus mendorong anak usahanya untuk mengembangkan bisnis di luar captive market-nya. Salah satunya dengan terus berinovasi agar bisa memberikan added value kepada pengguna jasa global. Ini juga merupakan wujud ekspansi BUMN ke pasar internasional," katanya.

Direktur Utama Pelindo Marine Service Eko Hariyadi Budiyanto menambahkan, peluang bisnis menggarap layanan pandu dan tunda di perairan telah dibahas bertahun-tahun oleh para negara pantai atau The Littoral States. Penunjukkan ini jadi menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia pada pengembangan sektor maritim nasional

"Memang persaingan di sana cukup ketat, ada pilotage atau marine advisory oleh Malaysia dan Singapura. Padahal sekitar 60% wilayah pelayaran tersebut merupakan wilayah NKRI. Jadi itu tantangannya bahwa menunjukkan pada komunitas maritim internasional bahwa Indonesia mampu mengelola Selat Malaka," ungkapnya.

"Layanan pilotage dan marine advisory yang dikerjakan oleh Pelindo Marine Service merupakan bagian dari rencana kerja Pemerintah Indonesia untuk mengembangkan vessel traffic information system (di perairan Selat Malaka)," tambahnya.

Pengajar maritim ITS Surabaya, Saut Gurning, menuturkan mengutip data Straitrep (2019) bahwa pada kurun waktu 2009-2019 arus kapal yang melalui Selat Malaka sekitar 60.000-85.000 unit per tahun.

"Dari jumlah tersebut baru sekitar 300 kapal saja yang dilayani oleh Indonesia. Seharusnya ke depan bisa mencapai 2.000-3.000an unit. Lebih strategis bagi Indonesia untuk melayani kapal-kapal besar, misalnya VLCC (very large crude carrier/tanker)," paparnya.

Ia menambahkan, dari jumlah 60.000-85.000 unit kapal per tahun tersebut, nilai ekonominya mencapai Rp 45 triliun untuk layanan pandu saja. Bila ditotal dengan derivasinya bisa mencapai Rp 360 triliun. Kenyataan tersebut seperti tidak terlihat oleh Indonesia, padahal sebenarnya sebagian besar melayari jalur di sisi eastbound (wilayah Indonesia) seperti dari Sumatra hingga Natuna.

"Saat ini realisasinya dari sekitar 80 ribu kapal, diperkirakan sekitar 70 persennya dilayani oleh Singapura. Karena mereka ada pelabuhan. Maka pelabuhan interport di Indonesia harus terus dikembangkan, misalnya Kuala Tanjung. Bila hanya bermain di segmen hinterland (wilayah pendukung pelabuhan), porsi keuntungannya jauh. Seluruh stakeholder, baik pemerintah, BUMN, swasta harus bekerja sama untuk mengelola potensi Selat Malaka," pungkasnya.

Tonton juga Kemenhub Minta Tiket Pesawat ke Bali, Sulut, dan Kep. Riau Didiskon :

[Gambas:Video 20detik]

(mul/ega)