Blak-blakan Geni Rina Sunaryo

Pakar Nuklir Batan Sebut Pendirian PLTN Terhambat Politik

Deden Gunawan - detikNews
Rabu, 19 Feb 2020 07:01 WIB
Dr Geni Rina Suharyo, M.Sc, pakar keselamatan reaktor nuklir Batan
Dr Geni Rina Sunaryo, M.Sc, pakar keselamatan reaktor nuklir Batan (Foto: Citra/20detik)
Jakarta -

Enam tahun belajar soal nuklir di Jepang seakan tidak berguna bagi Geni Rina Sunaryo. Perempuan kelahiran Jakarta, 9 September 1962 itu menempuh pendidikan soal ilmu nuklir di Universitas Tokyo sejak 1988 hingga 1994. Bertahun kemudian setelah kembali ke tanah air ia menyadari, dirinya bak tentara tanpa senapan.

Ilmu dan titel doktor yang disandangnya nyaris tak berguna karena tak dapat didayagunakan dengan optimal. Cita-citanya mewujudkan mimpi Presiden Sukarno untuk memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang dicanangkan sejak 1956 kandas. Ia menuangkan keluh-kesahnya dan viral di media sosial.

"Ini bukan hanya suara saya, ini suara seluruh peneliti di Indonesia," kata Geni saat ditemui tim Blak-blakan detik.com di ruang kerjanya, Kantor Badan Atom Nansional (Batan), Serpong, Senin (17/2/2010).


Geni menyebut PLTN merupakan jawaban untuk memenuhi kebutuhan energi di tanah air. Nuklir dapat melengkapi dan mengikat berbagai sumber energi yang digunakan saat ini seperti air, panas bumi, batubara, matahari, dan angin.

Berbagai studi telah dilakukan bekerja sama dengan para ahli dari sejumlah negara adidaya di bidang nuklir seperti Italia, Prancis, Amerika, dan Jepang. Ratusan pelajar Indonesia telah dikirim mempelajari nuklir di banyak negara.

Dari 19 syarat pendirian PLTN, kata Geni, tinggal satu yang belum dimiliki Indonesia. Apa itu? "Komitmen politik dari pemimpin tertinggi kita," ujarnya. Ia merujuk Bangladesh yang kondisi ekonomi tak lebih baik dari Indonesia sudah mulai membangun PLTN. Arab Saudi yang punya pasokan minyak melimpah pun kini tengah membangun PLTN. "Ini artinya apa, keputusan politik kan?"

Master jurusan Nuclear Engineering dan doktor bidang System Quantumn Engineering itu meyakinkan para ahli Indonesia mampu membangun reaktor dan mengoperasikannya dengan tingkat keamanan terbaik. Geni dan timnya di Batan sudah mampu mendesain reaktor generasi keempat. Generasi pertama itu reaktor Chernobyl dan kedua di Fukushima.

Pada desain generasi keempat, secara struktural sudah memperhitungkan ancaman gempa dan bencana lain dengan lebih baik. Reaktor generasi keempat juga tak cuma menghasilkan listrik tapi juga panas.

"Panasnya ini bisa dipakai untuk meningkatkan kualitas batubara, agar ketika dibakar tidak menghasilkan polusi udara. Jadi, nuklir itu bukan ancaman batubara tapi justru bisa memperkuat PLTU," papar Geni.

Bayang-bayang kecemasan akan bahaya nuklir kembali datang seiring ditemukannya zat radioaktif di lahan kosong Perumahan Batan Indah, sekitar tiga kilometer dari kantor Batan. Sejauh ini sebanyak 107 tong berisi tanah yang terpapar radioaktif telah diangkut petugas Bapeten. Sementara polisi masih menyelidiki siapa yang membuang limbah radioaktif di perumahan tersebut.

Sebagai pakar yang baru melepas jabatan Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir di Batan, Geni menjamin radioaktif itu bukan berasal dari kebocoran reaktor milik Batan. Ia menduga ada pihak yang sengaja tak mengembalikan limbah Cesium ke Batan tapi menguburnya di lahan kosong. Kemungkinan ada alasan finansial di balik perbuatan tersebut.

Selengkapnya, simak perbincangan Geni Rina Sunaryo dalam program Blak-blakan di detik.com, Rabu (19/2/2020).

[Gambas:Video 20detik]

(deg/jat)