Pimpinan KPK Kembali Soroti Pemeriksaan Saksi, Kali Ini soal Ahmad Sahroni

Ibnu Hariyanto - detikNews
Sabtu, 15 Feb 2020 00:00 WIB
Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango mengikuti upacara pelantikan Pimpinan dan Dewan Pengawas KPK di Istana Negara, Jakarta, Jumat (20/12/2019). Presiden Joko Widodo melantik lima pimpinan KPK periode 2019-2023 yakni Firli Bahuri, Alexander Marwata, Lili Pintauli Siregar, Nawawi Pomolango dan Nurul Ghufron. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.
Wakil Ketua KPK Nawawi Pomolango (Antara Foto)

Ia mengaku akan mengkonfirmasi langsung perihal keterangan Sahroni itu ke para penyidik yang memeriksanya. Nawawi mengatakan, sebagai pimpinan KPK, ia tidak ingin ada budaya kerja yang terkesan sesukanya di lembaga yang dipimpinannya itu.

"Tadi juga kenapa sampai satu jam setengah ngobrolnya yang lain lebih banyak daripada urusan Bakamla karena bingung penyidiknya mau nanya urusan Bakamla, gua nggak tahu sama sekali," imbuh Sahroni.

"Inilah yang kami maksudkan perlu mengevaluasi cara kerja agar tidak terkesan bekerja sesukanya," sebut Nawawi.

Ia mengaku tidak peduli terhadap adanya anggapan pimpinan KPK dinilai melakukan intervensi terhadap pemeriksaan saksi-saksi di KPK. Menurutnya, sebagai pimpinan KPK, dia bersama empat pimpinan yang lain bertanggung jawab terhadap perilaku kerja di lembaga antirasuah itu.

"Saya tidak peduli dengan tudingan intervensi atau apa pun. Sebagai pimpinan kamilah yang bertanggung jawab atas segala perilaku kerja di lembaga ini," ujarnya.

Bahkan, Ia mengatakan seluruh pimpinan KPK ikut memonitor setiap proses pemeriksaan saksi-saksi meski berlangsung selama berjam-jam. Karena hal itu merupakan tanggung jawab pimpinan KPK untuk bekerja secara profesional.

"Kami pimpinan bahkan sampai harus ikut berjam-jam melihat monitor pemeriksaan yang sedang dilakukan. Karena memang kita dituntut untuk profesional dan yang terpenting, tidak terkesan bekerja sesukanya," tutur Nawawi.

Sebelum ini, Nawawi juga pernah menyoroti pemeriksaan mantan Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan quay container crane (QCC) di PT Pelindo II pada Kamis (23/2). Kala itu, RJ Lino menjalani pemeriksaan belasan jam di KPK.

Nawawi mengaku memperhatikan durasi pemeriksaan itu lantaran berkaca pada pengalamannya saat aktif sebagai hakim pengadilan tipikor. Saat itu Nawawi melihat lembaran berita acara pemeriksaan atau BAP hanya dalam hitungan jari tangan.

"Saya ingin kami profesional, tidak lagi terkesan bekerja sesukanya. Dalam pandangan saya, bukankah ketika kita memanggil orang-orang entah menjadi tersangka atau saksi atau ahli, kita telah menyiapkan daftar materi yang ingin kita tanyakan? Kalau dengan model seperti itu, kenapa harus membutuhkan waktu berpuluh-puluh jam?" kata Nawawi pada Jumat (24/1/2020).

Halaman

(ibh/knv)