Asman Abnur: Keuangan PAN Harus Transparan & Diaudit Periodik

Nurcholis Maarif - detikNews
Selasa, 11 Feb 2020 12:06 WIB
Asman Abnur
Foto: dok detikcom
Jakarta -

Calon ketua umum (caketum) PAN Asman Abnur menyebut pengelolaan keuangan PAN masih tertutup dan perlu diaudit secara periodik supaya menimbulkan kepercayaan publik. Mantan menteri PAN-RB juga bicara tentang dukungan APBN ke partai hingga pengelolaan keuangan partai secara profesional.

"Pengalaman saya sebagai Bendahara Umum PAN, saya melihat pengelolaan keuangan partai dilakukan secara tertutup, karena banyak hal yang tidak bisa dibuka ke publik. Ke depan, dengan tata kelola partai yang profesional, saya mempunyai konsep pengelolaan keuangan partai modern harus transparan dan diaudit secara periodik," kata Asman kepada detikcom, dikutip Selasa (11/2/2020).

Asman menjelaskan, partai adalah salah satu tiang demokrasi dan juga penopang negara, maka sudah seharusnya APBN memberikan dukungan untuk partai sebagaimana berlaku di negara-negara demokrasi maju. Dengan catatan dukungan tersebut bersifat resmi, terbuka, akuntabel, dan diaudit.

"Besaran bantuan negara ke partai tergantung dari perolehan suaranya di pemilu. Maka PAN nanti akan mengusulkan perubahan UU Partai Politik, sehingga partai tidak terjebak pada kebutuhan keuangan yang besar tanpa sumber yang jelas. Sehingga hal ini sering menjebak partai untuk terpancing korupsi. Itu harus diakhiri," ujar Asman.

Menurut Asman, budaya berpartai lainnya yang harus diubah adalah jangan tergantung pada tokoh tertentu untuk pembiayaan partai. Misalnya pengusaha di partai atau kader yang menjabat jabatan tertentu. Tidak boleh mereka dibebani tanggung jawab sendiri karena akan memicu pelanggaran dan korupsi.

Partai modern, kata Asman, selain mengandalkan bantuan negara, juga mengembangkan kemandirian dalam pembiayaan organisasi. Maka harus ada aturan internal yang disepakati bersama mengenai besaran sumbangan kader PAN yang menduduki setiap jabatan.

"Saya yakin jika semuanya akuntabel dan diaudit, semua akan rela mengeluarkan sumbangan, karena mereka juga sadar jabatannya diperoleh terkait dengan partai. Dengan jumlah kader yang duduk di eksekutif maupun legislatif mendekati 2,000 orang, kalau itu diakumulasi, rasanya partai tidak akan kekurangan dana," ucap Asman.

"Saya yang lama jadi pengusaha dari paling bawah sudah bisa menghitung potensi itu, sehingga semua kader merasa memiliki saham di partai, bukan hanya elit-elitnya saja," imbuhnya.

(ega/ega)