Anak-anak ISIS Bakar Paspor, Perlukah Pemerintah RI Bahas Rencana Pemulangan?

Isal Mawardi - detikNews
Selasa, 11 Feb 2020 07:21 WIB
Video pembakaran paspor hijau dan merah oleh anak-anak ISIS. (Dok Media Sosial)
Video pembakaran paspor hijau dan merah oleh anak-anak ISIS. (Dok Media Sosial)
Jakarta -

Sejarah mencatat anak-anak ISIS, sebagian diduga dari Indonesia, melakukan pembakaran paspor hijau. Masih perlukah pemerintah membahas rencana pemulangan WNI eks ISIS tersebut?

"Sangat perlu karena itu amanah undang-undang juga kan, di undang-undang itu menyatakan bahwa andaikata ada orang Indonesia yang di luar sana, ingin pulang dan minta proteksi dan sebagainya, itu harus dipulangkan dan banyak dari mereka yang menyatakan (ingin) pulang, itu kan banyak diusir juga dari kamp, dibakar kampnya," ujar pengamat terorisme Al Chaidar ketika dihubungi Senin (10/2/2020) malam.

Chaidar menilai aksi bakar paspor yang dilakukan oleh eks ISIS pada 2016 silam itu sebagai bentuk provokasi oleh segelintir orang saja. Ia menduga eks ISIS itu hanya dilanda emosional sesaat. Karena itu dia menilai pemerintah tetap harus membahas rencana pemulangan WNI eks ISIS.

"Jadi saya kira itu (bakar paspor) tidak merupakan pendapat ke semua orang, dari yang pernah ke Suriah sana, dan mereka itu harus dikembalikan karena mereka punya hak asasi manusia untuk kembali ke kampung halamanya," kata Chaidar.


Menurutnya, pemerintah juga perlu memberikan upaya rehabilitasi atau karantina 'politik' kepada para eks ISIS. Hal itu sebagai langkah untuk mencegah tersebarnya paham-paham radikal di Indonesia.

"Katakanlah apakah (program) dari Depsos, dari kepolisian, sebelumnya kan memang harus memantau mereka, memberikan kebetuhuan-kebutuhan mereka karena mereka kan sudah menjual semua (harta benda) untuk ke sana, tapi yang menjual itu hanya bapak atau ibunya saja, sementara anak-anaknya nggak," tuturnya.

Menag Lepas Wacana Pemulangan WNI Eks ISIS ke Menko Polhukam:

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2