Ritual Penambang Emas Ilegal di TNGHS, Potong Kambing-Bakar Kemenyan

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kamis, 16 Jan 2020 16:45 WIB
Foto: Lokasi penambangan emas ilegal di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). (Istimewa)
Lebak - Penambang emas ilegal di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Lebak, Banten, selalu melakukan ritual saat menambang. Mereka menyiapkan tumbal sebagai seserahan untuk penunggu gunung mengikuti saran paranormal.

"Tiap seminggu sekali dibakarin kemenyan, kalau di Sunda namanya Tukuh Tumbal, ini harus potong kambing," kata Pak Haji, penambang yang meminta identitas lengkapnya tidak disampaikan kepada detikcom di Banten, Kamis (16/1/2020).

Sebelum menambang, gurandil juga harus datang ke paranormal. Mereka meminta nasihat termasuk untuk hari-hari larangan mencari emas.

"Ada liburannya juga, biasanya malam Jum'at," ujarnya.




Satu lubang tambang menurutnya digarap oleh minimal 20 sampai 30 orang. Mereka berbagi tugas kerja selama 24 jam. Biasanya, dibagi ke 3 kelompok untuk mendapatkan ratusan batu berbahan emas. Dalamnya tambang, ada yang 100 meter sampai 1 kilometer.

"Jadi di dalem lobang ada yang mahat, ada yang ngarungin, ada yang narik, ganti-gantian. Ada yang dalamnya 100 meter, ada yang 200 meter," tambahnya.

Jika dibayangkan, pekerjaan gurandil ini menurutnya seperi rayap di dalam tanah. Karena ada ratusan penambang di dalam lubang tambang. Kadang satu galian dan dengan galian lain saling bertemu. Lokasi-lokasinya ada di Cikatumbiri, Cimari, Cisoka, Lebak Pari, Cibuluh, CIkatumbiri di Citorek dan Gang Panjang, Gunung Masigit dan banyak lagi.




Dalam satu hari saja, mereka bisa membawa 100 karung yang isinya batu bercampur emas. Setelah diolah menggunakan merkuri satu karung bisa menghasilkan paling sedikit 2 sampai 5 gram emas.

"Sapoe (sehari) salobang bisa 100 beban (karung), satu beban bisa keluar 2 sampai 5 gram emasnya, dikaliin kalau 2 gram emasnya bisa 2 ons, dikali Rp 200 ribu bisa Rp 40 juta sehari semalam," ujarnya.

Berdasarkan catatan balai TNGHS, ada total 178 hektare lahan yang digunakan sebagai penambangan emas ilegal oleh gurandil. Totalnya ada 28 titik masing-masing 22 di Lebak dan 6 di Bogor.

Tambang ilegal ini disinyalir menjadi penyebab banjir dan longsor di Lebak. Presiden Joko Widodo telah memerintahkan pemerintah daerah setempat dan provinsi Banten untuk menutup tambang. (bri/fdn)