Cerita Gurandil soal Bisnis Emas Ilegal di TNGHS Penyebab Longsor Lebak

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kamis, 16 Jan 2020 12:54 WIB
Lokasi penambangan emas ilegal di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). (Foto: Istimewa)
Lebak - Tambang emas ilegal di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) jadi sorotan karena dianggap penyebab banjir dan tanah longsor, Lebak, Banten. Bisnis emas ini telah dilakukan selama puluhan tahun di gunung dan hutan Halimun. Sehari, ratusan juta bisa diraup dari satu lubang penambangan emas.

detikcom mewawancarai seorang gurandil yang disebut kepala lubang yang biasa dipanggil Pak Haji. Gurandil merupakan sebutan untuk penambang emas ilegal.

Ia menolak identitas lengkapnya disebutkan karena saat ini gurandil jadi sorotan. Sebutan jabatan itu merupakan kepala puluhan gurandil yang setiap hari menggali batu.


Haji cerita, bisnis tambang ilegal di TNGHS melibatkan beberapa pihak. Bos yang membiayai seluruh biaya penambangan, kepala lubang, dan puluhan gurandil. Termasuk oknum-oknum yang ia anggap sama-sama tahu bisnis ilegal ini.

Pemodal, katanya, bertanggung jawab pada kebutuhan sembako, merkuri, genset. Sedangkan gurandil bertugas menggali lubang atau yang biasa disebut 'nebok'.

"Nebok istilahnya, jaraknya lubang bisa ratusan meter ke dalam gunung, nanti timbul urat emas," kata Pak Haji kepada detikcom di Banten, Kamis (16/1/2020).

Saat menemukan urat emas di lubang, di situlah katanya emas bisa dipanen. Setiap lubang digarap oleh 30 gurandil yang menggali batu dengan sistem kerja bergantian pagi dan malam. Ada yang memahat batu, memasukkan batu ke karung dan membawanya ke luar lubang.
Selanjutnya
Halaman
1 2