Awal Nine Dash Line

Kepulauan Spratly Diklaim Prancis, China Marah dalam Ketidaktahuan

Danu Damarjati - detikNews
Rabu, 15 Jan 2020 12:42 WIB
Foto udara Karang Subi di Kepulauan Spratly (Foto: Ted Aljibe, AFP)
Jakarta - Ini adalah sejarah pembentukan peta Laut China Selatan. Setelah China menancapkan bendera di Pulau Prata dan Paracel yang tak jauh dari daratan utama, klaim wilayah laut China meluas sampai jauh ke Asia Tenggara. Konflik dengan Prancis menjadi awal sejarah terbukanya Laut China Selatan sebelum menabrak Natuna.

Kendati Kepulauan Prata dan Kepulauan Paracel sudah dideklarasikan sebagai milik China, namun peta resmi China yang dilengkapi dengan batas laut selatan belum tersedia pada tahun 1912.


Yang ada saat itu adalah peta-peta yang dibuat para kartografer (pembuat peta) individu dan perusahaan-perusahaan swasta, rata-rata peta itu dijiwai semangat nasionalisme China dengan penggambaran wilayah laut yang luas dan dikontraskan dengan kondisi terbaru saat itu, bahwa teritori laut China telah dicaplok bangsa asing.

Perusahaan Buku Zhonghua pada 1927 misalnya, menerbitkan peta China yang isinya sampai daratan Asia Tenggara, Kalimantan Utara, dan Kepulauan Sulu, berada dalam 'Batas Nasional Tua'. Namun Kepulauan Spratly belum tercatat di peta itu.



Hal ini dijelaskan oleh peneliti dari Chatam House, The Royal Institute of International Affairs, bernama Bill Hayton. Karyanya berjudul 'The Modern Origins of China's South China Sea Claims: Maps, Misunderstandings, and the Maritime Geobody', dimuat dalam jurnal Modern China, Sage Journals, tahun 2018.

Pada 1930, dijelaskan Bill Hayton, terjadilah peristiwa yang membuat orang-orang China marah tanpa paham situasi sebenarnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2