Menag Bicara 'Salah Teriak Antiaseng', GNPF-U Sarankan Jokowi Ganti Menteri

- detikNews
Kamis, 09 Jan 2020 09:56 WIB
Foto: Yusuf Martak (Kanavino/detikcom)


Sebelumnya, Menag Fachrul Razi mengunjungi kantor pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI). Fachrul bicara soal modernisasi hingga ekonomi dan sekolah Islam.

Dalam paparannya, Fachrul kemudian bicara mengenai transformasi negara seperti maraknya pembangunan infrastruktur dimana kontraktor utama pembangunan itu adalah China. Fachrul kemudian mengatakan umat Islam seharusnya tidak anti dengan China.

"Waktu di Arab, dia membangun kereta api cepat yang menurut dia kereta api tercepat di dunia. Madinah-Jeddah-Mekkah. Itu kereta Rusia dan kontraktornya seratus persen China. Jadi waktu pembangunan itu teman-teman lihat banyak China di sana, ya memang seperti itu," kata Fachrul di kantor MUI, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (8/1).



"Jangan berpikir juga Islam itu tidak suka dengan aseng, jangan lupa pada saat mereka dari Arafah menuju Mina itu keretanya China, kontraktornya seratus persen China. Mungkin kalau kita ada Islam yang teriak antiaseng, saya kira salah. Tapi mungkin beda, mungkin di sana tidak ada pengangguran, mungkin kalau tenaga kerjanya banyak jadi gelisah," sambungnya.

Berikut pernyataan lengkap Yusuf Martak:

Kalau ada menteri yang mengeluarkan pendapat tidak bijak, menurut saya tidak perlu didengar.


Kita Ummat Islam tidak pernah anti suku apapun, saat ini justru ada suku dan kelompok tertentu yang anti Islam bahkan jadi bandar membayar buzzer-buzzer dan penista agama untuk menyakiti dan menodai simbol-simbol Islam dan Ummat Islam.

Ummat Islam di manapun berada selalu jadi kurban sebagaimana di negara-negara di mana Islam Minoritas.

Di Indonesia, para taipan-taipan bisa menumpuk kekayaan telah menggurita menjadi konglomerat2 hingga menguasai bumi , air , isi perut bumi dan seluruh perekonomian, tapi Rakyat kecil dan Umat Islam tidak memusuhinya mereka bahkan menerima dengan ikhlas dan sabar menerima ketimpangan yang mencolok.

Tetapi justru sebahagian mereka berkolaborasi dengan liberal, antek-antek Komunis dan syiah memusuhi Umat Islam.

Saya mau bertanya pada mentri yang rajin mengurusi hal-hal di luar bidang tugasnya paham tidak sih. Mereka-mereka yang katanya sering membantu umat Islam justru mendapat kekayaannya bukan dari langit tapi juga dari duitnya Umat islam sebagai penduduk majoritas di Indonesia, pola berpikirnya sangat aneh dan tidak bisa diterima oleh akal yang waras, gaya bicaranya kerap membuat kegaduhan dan cenderung adu domba.

Sangat tepat dan seharusnya presiden menegur mentri yang sering menebar fitnah, dan lama-lama akan merugikan Presiden sendiri, ganti saja dengan orang pandai dan memang ahli di bidangnya, dari pada mengganggu kerukunan berbangsa dan bernegara.

Setelah Pilpres selasai, walau kita tidak bersama presiden terpilih tapi kita tidak berisik dan grusa grusu ingin menjatuhkan di tengah jalan.

Coba kita lihat kelompok Buzzer bayaran dan kelompok-kelompok Islam phobia yang belum bisa menerima kekalahan dalam pilkada 2017 , dendamnya masih membara hingga 2 Tahun 2019, Grusa-grusu kalau perlu Gubernur DKI pilihan masyarakat Dki, karirnya dimatiin sekarang juga.

Orang-orang semacam ini di samping tidak punya konstribusi posistif untuk negara dan bangsa, sebaiknya jangan di beri ruang di mata publik.
Sekian.

Halaman

(zap/imk)