SBY Bicara Perang Besar Bisa Terjadi karena Pemimpin Eratik

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 16:51 WIB
SBY (Agung Pambudhy/detikcom)
SBY (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Presiden Indonesia ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bicara mengenai hal-hal yang memicu terjadinya perang besar antarnegara. SBY menyebut salah satu faktor utama yang bisa mendorong terjadinya perang adalah adanya pemimpin eratik dan pemimpin yang gemar akan perang.

Pernyataan SBY itu ditulis dan di-posting melalui akun Facebook pribadinya. Tulisan itu diberi judul 'Perang Besar Bisa Terjadi Karena Miskalkulasi, Pemimpin yang Eratik dan Nasionalisme yang Ekstrim'.

"Perang juga mudah terjadi di tangan pemimpin yang eratik (erratic) dan 'gemar perang' (warlike)," ujar SBY dalam tulisannya, seperti dilihat pada Selasa (7/1/2020).

Dalam Cambridge Dictionary versi daring, 'erratic' bermakna 'bergerak atau berperilaku dengan cara yang tidak biasa, tidak menentu, dan tidak seperti yang diduga'.

SBY lantas mencontohkan kasus ketegangan di dua negara, yakni Iran dan Amerika Serikat (AS), setelah Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, dibunuh AS di Baghdad, Irak. SBY berharap kedua negara ini bisa menyelesaikan polemik dengan berpikir tenang dan jernih.

"Saat ini sejarah juga sedang menguji apakah Presiden Trump, Ayatollah Khamenei, dan Presiden Rouhani termasuk kategori pemimpin yang eratik dan suka perang atau tidak. Semoga mereka bukan tipe itu," kata SBY.

Pria yang juga Ketua Umum Partai Demokrat ini berharap dua pemimpin beda negara itu bisa berpikir jernih dan memperhitungkan risiko konflik dengan matang. Dia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya Trump dan Rouhani tidak menjadi pemimpin yang eratik.

"Saya yakin 'political and diplomatic resources' masih tersedia. Saya yakin masih ada jalan untuk mencegah terjadinya peperangan besar," ucap dia.

Berikut ini tulisan lengkap SBY:

PERANG BESAR BISA TERJADI KARENA MISKALKULASI, PEMIMPIN YANG ERATIK DAN NASIONALISME YANG EKSTRIM

Bagi yang berharap tahun 2020 ini dunia kita menjadi lebih aman dan damai, harus bersiap untuk kecewa. Bahkan frustrasi. Tidak ada tanda-tanda untuk itu. Yang terjadi, di awal tahun baru ini kawasan Timur Tengah kembali membara.

Tahun 2019 yang baru kita tinggalkan ditandai dengan maraknya gerakan protes sosial. Kemarahan dan perlawanan rakyat terjadi di lebih dari 30 negara. Mereka melawan pemimpin dan pemerintahannya karena merasa tidak mendapatkan keadilan, ekonominya sulit dan ruang kebebasan untuk berekspresi dibatasi. Ragamnya berbeda-beda. Mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan, harga-harga naik sementara daya beli rakyat turun, hingga pemerintahnya dinilai korup sementara beban utang negara meningkat tajam. Juga karena pemimpinnya dianggap ingin terus berkuasa dengan cara mengubah konstitusi dan undang-undang. Juga pemilihan umum yang baru saja dilaksanakan dianggap curang, sehingga rakyat tidak terima dan turun ke jalan. Yang lain, rakyat merasa ruang kebebasan untuk berekspresi ditutup disertai tindakan-tindakan yang represif dari pihak penguasa. Ada juga, terutama di negara-negara maju, rakyat marah karena pemerintahnya dianggap lalai dan tak serius dalam melawan perubahan iklim dan krisis lingkungan.



Sementara gejolak sosial global di tahun 2019 itu belum sepenuhnya usai, kini dunia menghadapi ancaman yang lebih serius. Geopolitik di kawasan Timur Tengah (Raya) kembali mendidih, yang sangat bisa merobek keamanan internasional yang sudah rapuh. Mengapa banyak pihak sungguh cemas dengan perkembangan terbaru di kawasan ini, karena banyaknya negara yang melibatkan diri dengan kepentingan yang berbeda-beda. Belum "non-state actors" yang selama ini turut meramaikan benturan politik, sosial dan keamanan yang ada. Meskipun seolah saat ini mata dunia tertuju kepada Iran, Irak dan Amerika Serikat, jangan diabaikan peran negara lain. Ada Rusia, Turki, Israel, Suriah, Saudi Arabia, Libya, Mesir, Qatar, Afghanistan dan Yaman serta sejumlah negara NATO. Tentu masih ada yang lain. Kalau situasi makin memburuk dan belasan negara itu melibatkan diri, apalagi pada posisi yang berhadap-hadapan memang keadaan sungguh menakutkan. Itulah sebabnya sebagian dari kita mulai bertanya, jangan-jangan perang dunia yang kita takutkan terjadi lagi. Akankah ke situ?

Saya pribadi termasuk orang yang tak mudah percaya bahwa krisis di Timur Tengah saat ini bakal menjurus ke sebuah perang besar. Apalagi perang dunia. Namun, saya punya hak untuk cemas dan sekaligus menyerukan kepada para pemimpin dunia agar tidak abstain, dan tidak melakukan pembiaran. Maksud saya, janganlah para "world leaders" itu "do nothing". Mereka, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, harus "do something". Terlalu berbahaya jika nasib dunia, utamanya nasib 600 ratus juta lebih saudara-saudara kita yang hidup dan tinggal di kawasan itu, hanya diserahkan kepada para politisi dan para jenderal Amerika Serikat, Iran dan Irak. Timur Tengah dan bahkan dunia akan bernasib buruk jika para politisi, diplomat dan jenderal di negara-negara itu melakukan kesalahan yang besar. Risikonya bisa memunculkan terjadinya tragedi kemanusiaan yang juga besar. Generasi masa kini memang tidak pernah merasakan harga yang harus dibayar oleh sebuah perang dunia, sebagaimana yang terjadi di awal dan medio abad 20 dulu. Sebenarnya, melalui buku-buku sejarah atau film-film, sebagian dari mereka mengetahui getirnya penderitaan manusia yang menjadi korban dari sebuah peperangan berskala besar.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5