Peneliti LIPI: Normalisasi Sungai Merusak Ekosistem, tapi...

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 14:29 WIB
Foto udara suasana wilayah bantaran sungai Ciliwung yang belum dinormalisasi. (Antara Foto/Muhammad Adimaja)
Jakarta - Peneliti limnologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Gadis Sri Haryani menjelaskan bahwa konsep normalisasi tak harus diterapkan di semua wilayah sungai di Jakarta untuk mencegah banjir. Konsep normalisasi bahkan disebut telah lama ditinggalkan oleh negara-negara Eropa.

"Teknologi normalisasi pernah dipakai di Eropa dan telah disadari keliru dan telah ditinggalkan. Tapi kalau di Indonesia bisa disesuaikan. Konsep normalisasi ini tentu tetap bisa digunakan dengan melihat beberapa kondisi," kata Dr Gadis Sri Haryani kepada detikcom, Selasa (7/1/2020).


Gadis menjelaskan, sebelum melakukan normalisasi sungai, harus dilihat terlebih dahulu hulu dan hilir sungai. Jika dirasa pinggiran sungai menjadi rentan karena kondisi daerah sungai yang penuh bangunan, normalisasi itu bisa digunakan.

"Artinya gini, kan tergantung sungai itu berada. Kalau misalnya sungai Ciliwung itu hulunya dari Kabupaten Bogor, ke hilirnya misalnya di Jakarta, dengan kondisi Jakarta yang penuh bangunan di sekitar sungainya itu, memang ada daerah pinggiran sungai yang rawan longsor. Nah itu memang oke dinormalisasi, dibeton atau diturap," tutur Gadis.


Kendati demikian, ada pula sungai yang tak perlu dinormalisasi. Dia mencontohkan sungai yang berada di kawasan Condet, yang dihidupkan ekosistem alaminya oleh masyarakat.

"Tapi ada daerah yang tidak perlu dibeton seperti di Condet yang dihidupkan ekosistemnya oleh masyarakat Ciliwung. Dari lahannya itu tidak perlu dibeton atau normalisasi, karena di lahannya itu ditanami tumbuh-tumbuhan yang bisa menahan erosi," kata pakar limnologi ini.
Selanjutnya
Halaman
1 2