Ini Alasan Kamu Nggak Bisa Musuhan Sama Plastik

Nurcholis Maarif - detikNews
Selasa, 31 Des 2019 13:15 WIB
Foto: shutterstock
Jakarta - Saat ini banyak masyarakat yang menganggap plastik pascakonsumsi menjadi salah satu penyebab terbesar pencemaran lingkungan. Hal ini berlanjut kepada kampanye antiplastik sehingga mereka mulai ramai-ramai mengganti semua hal yang berbau plastik.

Namun, sebenarnya bisa nggak sih manusia, di Indonesia saja, bisa hidup tanpa plastik?

Menurut Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung, Prof. Enri Damanhuri, rasanya saat ini sulit bagi manusia untuk hidup tanpa plastik. Pasalnya hampir semua barang yang digunakan sehari-hari tidak terlepas dari bahan plastik, tentu selain tas kresek dan sedotan yang sering dipermasalahkan.

Sebut saja ballpoint, smartphone, aksesori, kartu ATM, jok kursi, furnitur, bahan bangunan, TV, kulkas, dan masih sangat banyak lagi yang memiliki bahan dasar plastik.

Prof. Enri mengatakan, mungkin bisa saja ada di antara kita yang ingin menjalani kehidupan tanpa plastik. Namun, ia yakin sebagian besar sepakat dengan dirinya bahwa sulit hidup tanpa plastik.

"Barang yang kita gunakan dan konsumsi setiap hari sudah lama tersedia dalam bentuk barang yang komponennya terbuat dari bahan plastik. Alternatif bahan lain belum tersedia secara masif seperti plastik," ucap Prof. Enri saat dihubungi detikcom.

Akhirnya, hal ini turut berpengaruh ke kebiasaan masyarakat. Prof. Enri mencontohkan, dulu lemper misalnya cukup dibungkus daun pisang dan diperjualbelikan apa adanya. Sekarang lemper tersebut dilapisi plastik, baru dibungkus daun pisang, lalu dibungkus lagi dengan plastik agar terjaga tetap bersih dan tahan lama.

"Dulu kalau kita pesan segelas teh manis tidak pernah disertai sedotan. Sekarang tanpa diminta sedotan selalu disertakan. Sepertinya rekan-rekan yang hidup di non-urban mengalami hal yang sama. Bungkus sachet kopi, air mineral, dan sejenisnya bukan hal yang aneh dijumpai," ucap Prof. Enri.

Jadi penggunaan plastik juga turut mengubah pola perilaku masyarakat. Selain itu, jika ditilik lebih dalam, plastik juga bukan objek tunggal yang bisa disalahkan atas pencemaran lingkungan, tetapi juga perilaku manusianya.

Untuk itu, menurut Prof. Enri kendala terbesar dalam penggunaan plastik adalah konsumsi masyarakat dan kemampuan kapasitas atau pengelolaan sampah plastik yang seharusnya menjadi hal penting. Hai ini terutama buat regulator, khususnya pemerintah daerah (Pemda), menangani pascakonsumsi dari barang yang tidak digunakan lagi.

"Bila kita googling informasi, sebetulnya konsumsi plastik rata-rata orang Indonesia pada tahun 2017 adalah 22 kg/orang/tahun, bandingkan dengan Jepang yang besarannya sekitar 100 kg/orang/tahun," ucap Prof Enri.

Konsumsi ini, kata Prof. Enri, jelas akan meningkat sejalan dengan meningkatnya taraf ekonomi, khususnya bila tidak ada usaha untuk mengeremnya. Jepang walau konsumsinya sangat tinggi, tetapi mereka (Pemdanya) mempunyai kemampuan menangani sampahnya hampir 100%, sementara Indonesia menurut Bappenas (2017) kemampuan Kota/Kabupaten dalam menangani sampah tidak mencapai 40%.

"Lalu yang lain lari ke mana? kemampuan recycling ternyata belum mencapai 10%. Jelas perilaku membuang sampah sembarangan sangat berpengaruh," ucap Prof. Enri.

Padahal, kata Prof Enri semua plastik bisa didaur ulang, tidak ada kecualinya. Bahkan bernilai ekonomi jika sudah didaur ulang dan masuk kembali ke industri. Biasanya pemegang peran untuk pengolahan plastik pascakonsumsi ini adalah pengepul dan pemulung.

"Pengepul atau pelapak yang menerima pasokan dari pemulung akan melakukan pemilahan dan pengolahan, misalnya memisahkan bagian yang tidak diinginkan oleh industri. Mereka hanya mengambil (memilih) plastik yang diminta oleh industri, seperti PET-botol, PP-gelas. Jadi ini mekanisme pasar berdasarkan permintaan. Industri daur-ulang mengingninkan barang yang masuk ke mereka harus sejenis (murni), bersih dan kering. Harganya tergantung kualitas yang dipasok," tandasnya.

Namun pemilahan ini masih terbatas karena belum dilakukan secara profesional. Oleh karena itu, diperlukan segenap pihak untuk bahu membahu membangun manajemen daur ulang plastik yang berdaya guna dengan meminimalisir pencemaran.

Prof Enri mengapresiasi perusahaan besar seperti Coca-Cola yang dinilai sangat tanggap terhadap pengemasan produk mereka, sebagai bagian tanggung jawab sosial mereka dalam berusaha mengelola plastik. Banyak sebetulnya terobosan-terobosan seperti upaya mengurangi berat, upaya menggunakan bahan yang sejenis, dan lain sebagainya.

"Mereka juga banyak menghadirkan program-program yang terkait dalam usaha pengumpulan sampah plastik di beberapa tempat di Indonesia. Di samping usaha-usaha agar pengemasnya mendekati 100% terdaur ulang. Saya kira usaha mereka sangat positif bagi penanggulangan permasalahan sampah plastik di Indonesia," pungkasnya.

Sementara itu, Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilo mengatakan berbagai program sudah dilakukan oleh Coca-Cola untuk bisa memahami permasalahan manajemen sampah.

"Kami melihat kemasan pascakonsumsi merupakan sumber daya bernilai tinggi yang memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi Indonesia pada tahun 2030," ujar Triyono.

Pada 2017, kata Triyono, Coca-Cola mengumumkan visi dan misi 'World Without Waste' sebagai komitmen dalam menyelesaikan permasalahan kemasan pascakonsumsi. Di Indonesia, Coca-Cola melakukan kolaborasi serta kajian untuk mendukung program pemerintah dalam menangani sampah kemasan, di antaranya dengan melalui program Plastik Reborn 1.0 dan 2.0

"Coca-Cola bersama dengan Praise juga menginisiasi Packaging Recovery Organization (PRO) untuk kolaborasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan, terutama sebagai salah satu solusi penanganan kemasan plastik pascakonsumsi di Indonesia," ucapnya. (ega/ega)