Kaleidoskop 2019

Rusuh Papua usai Insiden di Kota Pahlawan

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 31 Des 2019 10:16 WIB
Foto: Asrama Papua Surabaya (Amir Baihaqi)
Jakarta - Tahun 2019 sempat diwarnai oleh kejadian huru-hara. Salah satunya ialah kerusuhan di Papua yang dipicu oleh ketegangan di Asrama Papua di Surabaya dan Malang.

Kerusuhan ini terjadi di Papua Barat, tepatnya di Manokwari dan Sorong, pada Senin (19/8/2019). Begini kilas balik urutan kejadian dan penanganan krisis yang diwarnai pernyataan teduh antarkepala daerah.

15 Agustus: Demo di Malang

Mulanya, pada Kamis (15/8/2019) sejumlah mahasiswa Papua berencana melakukan demo di depan Balai Kota Malang. Mereka tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat West Papua di Malang. Demo itu sendiri dimaksudkan dalam rangka memperingati 57 tahun perjanjian New York, dengan tema 'Amerika Serikat Harus Bertanggung Jawab Atas Penjajahan di West Papua'.


Namun, mereka tak mengantongi izin demo. Polisi lantas melakukan pengadangan terhadap mahasiswa Papua yang hendak melakukan unjuk rasa. Unjuk rasa itu berujung rusuh. Usai kerusuhan, muncul isu adanya pernyataan pejabat yang ingin memulangkan mahasiswa Papua.

16 Agustus: Warga Geruduk Asrama Papua di Surabaya

Sehari kemudian dan di kota yang berbeda, gesekan terjadi. Ketegangan terjadi antara warga dan Mahasiswa lantas terjadi juga di Surabaya pada Jumat (16/8). Ratusan warga gabungan berbagai ormas di Kota Pahlawan ini menggeruduk Asrama Mahasiswa Papua di Jalan Kalasan. Massa geram lantaran mendapatkan kabar bahwa mahasiswa asal Papua tidak mau memasang Bendera Merah Putih.

"Mereka tidak mau pasang bendera. Terus ketika dipasang oleh pihak Muspika bendera di depan, bendera dibuang oleh oknum mereka," kata salah satu massa Hari Sundoro, Jumat (16/8/2019).

"Ya jelas kita tersinggung, bendera kita dibuang. Kalau nggak mau pasang jangan tinggal di Indonesia apalagi di Surabaya," pungkas Hari.

Namun, seorang mahasiswa Papua membantah tuduhan tak mau memasang bendera itu. Dia mengaku tidak tahu menahu soal kasus bendera.

"Kalau soal itu (pembuangan bendera) kami tidak tahu menahu. Karena ada beberapa teman termasuk saya sendiri keluar untuk beli makan siang itu. Setelah masuk benderanya memang sudah tidak ada," kata salah satu penghuni Asrama Mahasiswa Papua Dorlince Iyowau kepada detikcom, Senin (19/8/2019).


Dorlince menuturkan, usai masuk asrama setelah membeli makanan pada Jumat (16/8) pukul 15.20 WIB, ada orang-orang yang menggebrak pintu. Sambil berkata rasis mereka menyuruh penghuni asrama keluar dan menantang beradu fisik.

"Jam 15.20 WIB kami kemudian didatangi dan gebrak-gebrak pintu dan ngata-ngatain kami monyet, babi, anjing keluar dan kata-kata rasis. Kemudian kami minta negosiasi atau pendekatan hukum. Kami mau klarifikasi bersama tapi pihak mereka tidak mau," tutur Dorlince.
selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2 3