Heboh Kepala Daerah Punya Rekening Kasino, Seperti Inikah Modusnya?

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 18 Des 2019 12:34 WIB
Foto: Ilustrasi salah satu kasino di Macau, China (Isaac Lawrence/AFP)
Jakarta - Temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait adanya sejumlah kepala daerah yang memiliki rekening kasino di luar negeri jadi sorotan. Pasalnya, cara ini merupakan modus untuk melakukan kejahatan pencucian uang. Bagaimana modus cuci uang lewat kasino ini berlangsung?

Sebagaimana diketahui, Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin mengungkapkan, jajarannya telah menemukan adanya dugaan kepala daerah melakukan transaksi keuangan di luar negeri yaitu pada rekening kasino. Hal ini disampaikan dalam acara refleksi akhir tahun di kantornya, Jalan Ir Haji Juanda, Jakarta Pusat, Jumat (13/12) lalu. Badaruddin menyebut para kepala daerah itu melakukan transaksi uang dalam bentuk mata uang asing dengan nominal Rp 50 miliar.


Badaruddin memang belum memberikan penjelasan rinci soal penggunaan rekening kasino oleh kepala daerah itu. Tapi, sejumlah literatur pernah mengungkap tentang modus pencucian uang menggunakan rekening kasino di luar negeri.

Merujuk pada buku "Gambling in America: An Encyclopedia of History, Issues, and Society, yang tulis William N Thompson, kasino berasal dari bahasa Italia, casa yang artinya rumah atau villa di pedesaan kecil. Rumah-rumah di Italia pada abad ke-19 kerap dipakai untuk klub sosial untuk berjudi. Inilah yang kemudian membuat kasino diartikan sebagai rumah judi.

Dalam kasino, ada banyak jenis permainan yang diperjudikan. Dari mulai permainan kartu (poker) hingga judi roulette. Untuk memainkan permainan-permainan ini, seorang penjudi harus memasang taruhan dengan koin yang ditukar terlebih dahulu ke kasir dengan uang. Sistem koin ini belakangan pun berkembang menjadi sistem koin chip dan deposit online.

Seseorang bisa menyimpan uangnya dalam bentuk rekening deposit dan koin chip. Deposit adalah uang yang diendapkan dalam rekening kasino dan tak bisa diuangkan. Sedangkan koin chip, ialah modal taruhan yang merupakan pengganti uang asli. Koin chip ini bisa diuangkan kembali.

Nilai satu buah koin chip pun beragam, mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 10 juta. Setiap kasino pun memiliki aturan yang berbeda-beda, ada yang memiliki aturan koin chip bisa saja hangus jika lama tak dipertaruhkan. Ada pula yang akan tetap utuh layaknya rekening bank. Namun, umumnya kasino legal di dunia menerapkan sistem perbankan, sehingga koin chip tetap utuh meski tak dipertaruhkan.

Dalam tulisan jurnal berjudul 'Keeping Casinos Clean: The Problem with Dirty Money and International Differences in Anti-Money Laundering Regulations for Casinos' karya Kerry E. Kleiman, kasino-kasino besar dan legal menerapkan sistem perbankan, seperti misalnya kasino di Las Vegas, Nevada Amerika Serikat (AS) hingga Makau, China.


Kerry menjelaskan, di AS, kasino (termasuk perusahaan lain, seperti Las Vegas), yang memiliki pendapatan tahunan lebih dari $ 1 juta, berada dalam naungan hukum lembaga keuangan. Klasifikasi ini dilakukan karena kasino bisa menyediakan berbagai layanan mirip dengan yang disediakan oleh bank, seperti menguangkan, memeriksa, menambah kredit, dan mengirim dan menerima dana melalui transfer. Sistem yang mirip dengan bank inilah yang kerap kali jadi celah untuk melakukan pencucian uang.

Antisipasi Pencucian Uang di Kasino

Menyimpan uang di kasino juga sudah lama menjadi modus pencucian uang. Dari mulai uang hasil korupsi, sampai uang hasil penjualan narkoba. Karena itu, salah satu negara yang melegalkan kasino seperti AS, mengharuskan kasino dalam yurisdiksi pengaturannya, untuk mengajukan Laporan Aktivitas Mencurigakan Casino ("SAR-Cs") dan Laporan Transaksi Mata Uang (CTR).

Menurut hukum saat ini, kasino harus mengajukan laporan setiap kali pelanggan atau penjudi memberi dan menerima mata uang lebih dari $ 10.000. Ambang $ 10.000 ini merupakan agregat dari beberapa transaksi oleh pelanggan yang sama pada hari yang sama.


Misalkan, jika penjudi pergi ke tiga permainan judi berbeda dan dibeli seharga $ 3.500 setiap kali, jumlah keseluruhan mata uang yang diterima oleh kasino dari pelanggan ini akan menjadi $ 10.500 dan CTR selanjutnya harus diajukan. Namun, pengajuan suatu SAR-C tidak bergantung pada jumlah uang tertentu, tetapi harus diajukan ketika karyawan kasino mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan.

Tentang Kepala Daerah Pemilik Rekening Kasino

PPATK sendiri belum merinci modus seperti apa yang dipakai kepala daerah pemilik rekening kasino di luar negeri. PPATK hanya menyebut para kepala daerah itu melakukan transaksi uang dalam bentuk mata uang asing dengan nominal Rp 50 miliar.


Sosok kepala daerah itu juga belum diungkap terang. Bocoran hanya datang dari Ketua KPK Agus Raharjo yang menyebut sudah tahu nama salah satu dari sejumlah kepala daerah yang memiliki rekening kasino di luar negeri.

"Yang saya tahu orangnya satu itu. Kalau yang lain saya belum tahu," kata Agus di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (17/12/2019).

Agus mengatakan anak buah dari kepala daerah itu sudah berstatus tersangka di KPK. Namun Agus enggan membocorkan siapa anak buah kepala daerah itu, termasuk soal kasusnya.

"Ada kasus yang ditangani. Jadi rasanya, anak buahnya sudah ada yang jadi tersangka," ucap Agus. (rdp/imk)