Menag Bicara Kerikil Kerukunan Warga, Contohkan Isu Larangan Atribut Natal

Jefrie Nandy Satria - detikNews
Rabu, 11 Des 2019 12:01 WIB
Menag Fachrul Razi (Foto: Jefrie Nandy Satria/detikcom)
Jakarta - Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi bicara soal kerikil dalam kerukunan umat beragama di Indonesia. Dia mencontohkan, salah satunya, isu larangan memasang atribut Natal di mal.

Awalnya Fachrul menjelaskan kerukunan umat beragama dirumuskan dalam 3 hal, yaitu toleransi, kesetaraan dalam menjalankan ibadah agama masing-masing dan kerja sama di antara umat beragama mencapai tujuan bersama bangsa dan negara berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 45. Dia kemudian menyinggung soal isu pelarangan memasang atribut Natal di mal.

"Ini nanti ingin saya angkat pada saat bicara tentang Natal. Adanya isu-isu yang sebetulnya kecil sekali bahwa tidak membolehkan, membuat, memasang atribut natal di mal, misalnya," kata Menag Fachrul Razi di kantor Kementerian Agama, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (11/12/2019).



Dia mengibaratkan hal ini sebagai kerikil kecil dalam proses kerukunan umat beragama di masyarakat. Dia mengatakan hal ini harus ditanggapi dengan bijak dan tidak berlebihan.

"Saya kira dari dulu tidak pernah ada itu yang mengancam seperti itu. Jadi kalau ada seperti itu ya itu kerikil dan harus kita hapus, gak boleh ada. Tapi di sini harus ada lah saling pengertian dan menghormati. Pengertiannya juga ada timbal baliknya jangan juga berlebihan," tuturnya.

Fachrul mengimbau masyarakat yang melihat atau mengalami hal tersebut sebaiknya dapat melapor ke instansi-instansi terkait. Nantinya, institusi yang berwenang bakal melakukan langkah yang diperlukan.

"Ingin saya garis bawahi juga, kalau ada yang melihat berlebihan. Dia tidak boleh main hakim sendiri. Dia harus melapor kepada instansi yang berwenang nanti instansi yang berwenang itu bisa Polres, Polsek atau camat, sama-sama mendatangi mal," ucap Fachrul.



Dia menyarankan agar dialog selalu dilakukan untuk menangani masalah seperti ini. Mantan Wakil Panglima TNI tersebut mengatakan dialog merupakan salah satu cara untuk menjaga toleransi yang ada di masyarakat.

"Yang mana yang berlebihan, oke, kalau ini dipandang berlebihan nanti dikurangi sedikit dan sebagainya. Itulah yang dikatakan tadi toleransi di dalamnya ada saling pengertian, saling menghormati dan menghargai," ujarnya. (jef/haf)