Gawat Pak Jokowi! Indonesia Belum Punya Antivenom King Cobra

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 10 Des 2019 17:34 WIB
Foto ilustrasi: Ular berbisa king cobra (Dok. Facebook Made Dwi Sudarmawan)

Sampai saat ini, antivenom king cobra di Indonesia didatangkan dari Thailand. Bukan berarti ilmuwan-ilmuwan toksinologi (soal gigitan hewan berbisa) dari Indonesia tidak mampu menghasilkan antivenom mujarab untuk king cobra, namun ilmuwan-ilmuwan juga perlu dukungan pemerintah.

"Perlu ada riset. Perlu dukungan Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tanpa dukungan pemerintah, toksinologi tidak akan berkembang," kata Maha.

Lantas bagaimana bila tak ada antivenom?

Dia mencatat, sudah ada 53 orang meninggal dunia akibat gigitan ular berbisa, dari Januari hingga Desember. Meski Indonesia belum punya antivenom king cobra, namun bukan berarti tak ada harapan untuk menyelamatkan nyawa korban gigitan king cobra.

"Yang paling penting adalah pertolongan pertama yang benar. Dari 53 korban gigitan ular itu, rata-rata tidak melakukan pertolongan pertama yang benar, melainkan luka gigitan diikat, dikeluarkan darahnya, disedot, diberi obat herbal," tutur Maha.



Cara pertolongan pertama yang benar terhadap korban gigitan ular adalah: lakukan imobilisasi. Jangan sampai organ tubuh yang terkena gigitan ular mengalami banyak gerakan. Banyak gerakan berarti memudahkan bisa ular menyebar. Tidak perlu diikat kuat hingga aliran darah terhenti, melainkan hanya perlu dicegah agar organ itu tidak bergerak, caranya yakni dihalangi dengan papan.

"Kedua, first aid breathing, pasang ventilator. Soalnya, gigitan king cobra yang neurotoksin kuat plus sitotoksin itu menyebabkan gagal napas," kata Maha.

Gawat Pak Jokowi! Indonesia Belum Punya Antivenom King Cobra dr Tri Maharani mendemonstrasikan penanganan gigitan ular. (Dok Istimewa)
Halaman

(dnu/imk)