Laporan dari Madrid

Yenny Wahid: Ulama Harus Gencar Dakwah-Ajak Umat Peduli Lingkungan

Mei Amelia R - detikNews
Senin, 09 Des 2019 20:28 WIB
Yenny Wahid menjadi pembicara diskusi di Paviliun Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim. (Mei Amelia/detikcom)
Yenny Wahid menjadi pembicara diskusi di Paviliun Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim. (Mei Amelia/detikcom)
Madrid - Yenny Wahid menekankan pentingnya pelibatan agama dalam upaya mengatasi perubahan iklim. Para ulama didorong untuk lebih gencar menyiarkan soal isu lingkungan hidup dalam dakwah-dakwahnya.

"Energi umat harus kita salurkan untuk menjaga lingkungan hidup dan memastikan bahwa suhu planet ini tidak makin bertambah," kata Yenny Wahid.

Hal itu diungkapkan Yenny Wahid setelah menjadi pembicara diskusi bertajuk 'Pergerakan Agama dalam Perubahan Iklim' di Paviliun Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC-COP25) di Feria de Madrid, Madrid, Spanyol, Senin (9/12/2019) siang waktu setempat.
Apalagi kekuatan umat di Indonesia begitu besar. Yenny menyarankan agar kekuatan ulama itu digunakan untuk mengajak umat memperhatikan masalah lingkungan yang berdampak besar terhadap perubahan iklim.

"Energi umat ini banyak, terutama di Indonesia, mereka punya keinginan untuk saling berbuat keinginan kita kan diajari untuk berbuat kebaikan amal ma'ruf, ini salah satu pengejawantahannya artikulasinya adalah dengan cara melakukan tindakan sederhana tapi berkontribusi pada penyelamatan hidup," ujarnya.

Putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau yang dikenal Gus Dur ini pun mengimbau para ulama agar menggunakan energi positif itu untuk dakwah soal lingkungan.

"Umat diarahkan ke sana seharusnya, bukan umat diarahkan untuk saling menghujat satu sama lain, untuk menuduh orang lain kafir dan lain sebagainya. Energi harus kita diarahkan untuk perbaikan umat manusia," kata Yenny.

Dalam kesempatan diskusi, Yenny sempat bertanya mengapa manusia mudah tergerakkan oleh hal-hal abstrak, seperti surga dan neraka, sementara perubahan iklim yang begitu nyata tidak mempunyai pergerakan.

"Kenapa kita ini bisa percaya dengan hal-hal yang bersifat abstrak, saya bertanya bahwa hal-hal yang bersifat abstrak itu bisa menggerakkan manusia sedemikian rupa, misal tentang surga dan neraka, orang tidak pernah tahu secara fisik. Tapi fakta-fakta tentang perubahan iklim (yang bisa dilihat kasatmata) itu sampai sekarang tidak bisa menggerakkan manusia untuk melakukan tindakan konkret cegah pemanasan global, kenapa ini?" papar Yenny.
Yenny mengatakan pendekatan yang dilakukan untuk memulai pergerakan dalam perubahan iklim keliru. Menurut dia, pergerakan untuk mengatasi perubahan iklim harus dengan pendekatan perasaan.

"Karena selama ini pendekatannya keliru. Kalau ingin melakukan perubahan besar orang tidak bisa hanya disuguhi oleh fakta, tetapi harus disentuh emosinya. Orang harus disentuh perasaannya, setelah disentuh perasaannya barulah dia akan bertindak melakukan perubahan," tuturnya.
Halaman

(mei/jbr)