Mesin Waktu

Perintah Kejam 'Pangeran' dan Cerita Keji Pemerkosaan Massal Nanjing

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Senin, 09 Des 2019 18:07 WIB
Mayat pembantaian Nanjiing, di Sungai Qinhuai , 1937-1938. (Karya turunan dari foto Moriyasu Murase/Wikimedia Commons)
Mayat pembantaian Nanjiing, di Sungai Qinhuai , 1937-1938. (Karya turunan dari foto Moriyasu Murase/Wikimedia Commons)
Jakarta - Hari ini, tepat 82 tahun yang lalu pasukan Jepang meluncurkan serangan besar-besaran terhadap Nanjing, salah satu kota di bagian timur daratan China yang jadi ibu kota Republik China saat itu. Cerita penaklukan Nanjing berawal dari jatuhnya Shanghai ke tangan militer Jepang.

Pasukan Jepang pada 11 November 1937 bergerak ke arah barat dari Shanghai menuju Nanjing. Tentara Jepang yang dibagi dalam tiga grup. Nakajima Kesago memimpin grup pertama dari arah barat melewati tepi selatan Sungai Yangtze.



Grup ini lalu disusul kelompok pasukan yang dipimpin Matsui Iwane dan Yanagawa Heisuke. Karena sakit, Matsui digantikan oleh seorang jenderal yang juga anggota kerajaan bernama Pangeran Asaka Yasuhiko.

Pangeran Asaka adalah anak dari pasangan Pangeran Asahiko, pimpinan Fushimi-no-miya salah satu cabang keluarga kekaisaran Jepang dan Tsunoda Sugako. Seperti para pangeran lainnya, Asaka menyelesaikan pendidikan militernya di Akademi Militer Kekaisaran Jepang pada 1908.

Untuk mempercepat mengakhiri perlawanan, Jepang menawarkan perlakuan yang adil bagi prajurit yang bersedia menyerah. Memang tak sampai seminggu perlawanan pasukan China meredup, Nanjing bertekuk lutut. Namun ini sekaligus menghadirkan masalah baru bagi Jepang.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3