Laporan dari Madrid

Cara Bupati Sintang Kurangi Emisi: Jangan Rusak Hutan

Mei Amelia R - detikNews
Minggu, 08 Des 2019 20:24 WIB
Bupati Sintang Jarot Winarno (tengah) di COP25 Madrid (Foto: Mei Amelia Rahmat/detikcom)
Bupati Sintang Jarot Winarno (tengah) di COP25 Madrid (Foto: Mei Amelia Rahmat/detikcom)
Jakarta - Bupati Sintang, Kalimantan Barat, Jarot Winarno menekankan pentingnya menjaga kelestarian hutan untuk mengurangi emisi. Jarot juga membuat sejumlah program untuk menjaga kelestarian hutan di Kabupaten Sintang.

"Yang penting kan hutan kita jangan diganggu sedikitpun," ujar Jarot.

Hal itu diungkapkan Jarot dalam perbincangan dengan sejumlah media seusai menjadi pembicara di Paviliun Indonesia pada COP25 di Madrid, Spanyol, Jumat (6/12/2019). Sebagai upaya pelestarian hutan itu, dirinya telah mengeluarkan ribuan Surat Keputusan (SK) Bupati untuk menjaga agar kelestarian hutan tetap terjaga.

Kawasan hutan yang ada di Kabupaten Sintang sendiri mencapai 60 persen. Kabupaten Sintang memiliki sekitar 61 ribu hektare lebih hutan di luar kawasan hutan. Hutan yang disebut hutan desa itu dimiliki dan dikelola oleh masyarakat adat setempat.

"Targetnya 60 ribu (hutan desa) itu kita SK-kan. Sekarang yang udah (dibuat SK) paling--kan ada juga argoforestry dari kami juga--sekarang paling 2.600-an (SK)," kata Jarot.

Jarot mengatakan, SK tersebut diterbitkan per unit hutan desa, sesuai kebutuhan masyarakat adat dalam pengelolaan hutan. Namun, Jarot meminta masyarakat agar tidak menanam produk kayu. Hal ini agar masyarakat tidak melakukan penebangan saat memanen.

"Mereka minta ditanam JAPP (jengkol, aren, petai, dan pinang), kenapa mereka senang itu, lebih mahal jengkol daripada karet. Jengkol itu mereka jual semua ke Jawa, contohnya," katanya.

Masyarakat adat, dikatakan Jarot, mereka mempertahankan hutan mereka untuk menjaga sumber air. Masyarakat desa juga melakukan pemetaan yang dibantu oleh organisasi non-provit.

"Kami jaga untuk jaga air supaya nggak habis, 'nanti Bapak tolong lah carikan kami buat nanam JAPP ini'. Ketika mereka mapping didampingi oleh solidaritas NGO yang ada di sana, karena mereka nggak ngerti cara mappingnya, itu dua yang hutan desa," tuturnya.

Untuk menjaga kelestarian hutan sebagai paru-paru dunia, Bupati Sintang juga membuat kawasan eco-budaya. Kawasan eco-budaya itu salah satunya adalah Bukit Kelam.

"Karena di sana ada mengkudu, pepohonan untuk (menghasilkan) warna alam," ucap Jarot.

Jarot mengatakan menjaga ekosistem orangutan yang ada di hutan juga sangat penting untuk keberlangsungan hutan, sehingga dibuatlah 'Sekolah Orangutan'. Sekolah orangutan ini berada di Jejora, Kelurahan Akcaya, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang. (mei/fdu)