Keterlaluan! Ibu-Anak Sekongkol Edarkan Sabu di Rutan Cilodong Depok

Faisal Javier - detikNews
Jumat, 06 Des 2019 18:10 WIB
Kapolres Depok AKBP Azis Andriansyah (Foto: Faisal/detikcom)
Depok - Tim Polres Depok menangkap seorang ibu, Nisfiatun Rochmawati, yang menyelundupkan sabu untuk anaknya, Rully Wiji Nisdianto, yang sedang ditahan di Rutan Kelas II Cilodong. Sabu itu diselundupkan di charger ponsel.

Kapolres Depok AKBP Azis Andriansyah mengatakan pihaknya menerima penyerahan Nisfiatun dari Rutan Cilodong pada 28 November 2019. Nisfiatun berencana untuk menyelundupkan sabu seberat 1,90 gram untuk anaknya yang ditahan karena kasus pencurian motor.

"Di dalam lapas dia mengaku barang yang akan diantar ibunya ini akan diperjualbelikan di dalam, yang sebelumnya ternyata telah diperjualbelikan dengan harga per setengah gramnya 300 ribu di dalam lapas," kata Azis di Mapolresta Depok, Jumat (6/12/2019).



Azis menuturkan sabu yang hendak dijual di Rutan Cilodong itu didapatkan Nisfiatun dari anaknya Reza Alkahfi. Polisi saat ini masih mencari Reza.

"Ibu kandungnya tersebut mendapatkan barang juga dari anak kandungnya, yang ternyata adik kandung dari tersangka yang ada di dalam lapas. Sedang kita lakukan pengejaran, mohon waktu dan doanya semoga tersangka utamanya kita dapatkan," ujar dia.


Simak Video "Dor! Pengedar 20 Kg Sabu Jaringan Palembang-Jakarta Ditembak Mati"




Azis mengatakan modus penyelundupan sabu oleh Nisfiatun ini terbilang cukup unik. Nisfiatun mencoba mengelabui petugas dengan memasukkan sabu di charger ponselnya.

"Jadi menggunakan charger handphone seperti ini. Kemudian dibuka (kepala chargernya), kemudian dimasukkan (sabunya), kemudian direkatkan di (bagian) colokan. Jadi biasanya kalau ada pemeriksaan, handphone yang dibuka. Tapi karena dia udah tahu bagaimana cara menyelundupkan, akhirnya menggunakan chargernya," imbuh Azis.

Menurut Azis, Nisfiatun sudah menyelundupkan sabu ke Rutan Cilodong sebanyak dua kali. Dari penjualan yang pertama, Nisfiatun mendapatkan upah Rp 200 ribu per sekali antar.

"Keuntungan yang didapat, maaf untuk si ibu mendapatkan upah Rp 200 ribu sekali antar sebagai kurir di lapas, untuk si penerima di lapas, yang menjualbelikan ke sesama napi, mendapatkan per setengah gramnya Rp 300 ribu, jadi dia berlipat-lipat ya untungnya. Artinya sekali pengiriman ini dia mendapatkan Rp 2,5 juta," ujar Azis.

Atas perbuatannya, Nisfiatun dijerat Pasal 114 ayat (1) atau Pasal 112 ayat (1) dengan ancaman hukuman pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun. Sedangkan barang bukti yang disita berupa satu bungkus sabu 1,90 gram, satu buah kabel data, dan dua unit ponsel. (knv/hri)