Laporan dari Madrid

BMKG Kembangkan Teknologi Sistem Peringatan Dini Pantau Cuaca-Iklim

Mei Amelia R - detikNews
Kamis, 05 Des 2019 19:47 WIB
Kepala Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. (Foto: Mei Amelia/detikcom)
Kepala Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. (Foto: Mei Amelia/detikcom)
Jakarta - Badan Metrologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tengah mengembangkan teknologi sistem peringatan dini cuaca dan iklim. Dengan begitu, masyarakat yang sering terdampak perubahan iklim seperti nelayan dan petani bisa memantau dan mengadaptasi perubahan iklim.

"Pemerintah Indonesia terus memperbarui teknologi pemantauan cuaca dan iklim. Langkah ini penting agar kebijakan mitigasi perubahan iklim bisa ditentukan dengan tepat. Pembaruan teknologi itu juga penting untuk menentukan aksi-aksi adaptasi perubahan iklim yang diperlukan," jelas Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati di Madrid, Spanyol, Kamis (5/13/2019).



Saat ini, perubahan iklim terjadi dengan cepat. Salah satunya, El Nino dan La Nina yang saat ini memiliki kecenderungan berulang lebih cepat dari periode sebelumnya.

"Secara statistik periode ulang terjadinya El Nino-La Nina pada periode 1981-2019 mempunyai kecenderungan berulang semakin cepat dibandingkan periode 1950-1980," kata dia.

Perubahan iklim yang terjadi adalah buntut dari terus meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Menurut Dwikorita, konsentrasi gas rumah kaca (GRK) tercatat paling tinggi dalam sejarah dengan CO2 (karbondioksida) mencapai 405.5 ppm (part per million), CH4 (metana) sebanyak 1859 ppb (part per billion) and N2O (dinitrogen monosida) mencapai 329.9 ppb.

"Catatan tersebut berarti konsentrasi GRK sudah mencapai masing-masing 146%, 257% dan 122% di atas masa prarevolusi industri," imbuhnya.



Indonesia terus memperbaiki teknologi pemantauan iklim dan cuaca agar bisa memberikan hasil pemantauan iklim dan cuaca sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sistem observasi yang ada di lapangan diperkuat dengan dukungan sistem informasi.

"Berkat pembaruan teknologi pemantauan itu, prediksi yang awalnya hanya bisa dalam jangka waktu tiga sampai empat dasarian -sepuluh harian berturut turut-, kini bisa dilakukan hingga tiga bulan ke depan," katanya.

"Indonesia kini juga bisa membangun sistem peringatan dini cuaca dan iklim mulai dari prediksi terjadinya banjir, kekeringan, hingga kemungkinan mewabahnya penyakit demam berdarah akibat perubahan iklim," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2