Airlangga Cerita Masa Suram Golkar Jadi Bulan-bulanan karena Kasus Novanto

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Rabu, 04 Des 2019 11:27 WIB
Foto: Airlangga Hartarto. (Lamhot Aritonang/detikcom).
Foto: Airlangga Hartarto. (Lamhot Aritonang/detikcom).
Jakarta - Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto menceritakan masa suram Golkar ketika jadi bulan-bulanan media. Golkar kala itu dihantam berita negatif mulai dari masalah dualisme kepengurusan karena Pilpres 2014 hingga kasus korupsi eks ketumnya, Setya Novanto.

Airlangga menceritakan tentang masa sebelum Munaslub Golkar tahun 2017 yang menetapkan dirinya secara aklamasi sebagai ketum. Kala itu, Golkar di rentang tahun 2014-2016 terbelah.

"Sebelum Munaslub 2017 Partai Golkar berada dalam situasi yang sangat terpuruk selama kurang lebih 2 tahun dari 2014-2016 terjadi dualisme kepengurusan baik di tingkat pusat maupun daerah. Dalam situasi semacam itu, konsolidasi, kaderisasi dan pembinaan tidak berjalan semestinya," kata Airlangga di acara Munas Golkar di Ritz-Carlton, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2019).


Di tahun 2015, Airlangga menyebut Golkar hampir tidak bisa mengusung calon di pilkada karena tidak ada kesepakatan antara dua pengurus partai. Bahkan, kata dia, kader Golkar malah diusung partai lain dan beberapa yang memenangkan pilkada akhirnya pindah haluan.

"Dualisme diakhiri Munaslub 2016 di Bali. Salah satu keputusan penting adalah menetapkan posisi politik Golkar semula di luar pemerintahan yang berubah jadi pendukung pemerintah Jokowi-JK (Jusuf Kalla) bersama KIH (Koalisi Indonesia Hebat)," tutur Airlangga.

Simak Video "Saksi Ahli Bimanesh Malah Buktikan Ada Rekayasa Kasus Novanto"


Selanjutnya
Halaman
1 2