THC & Vitamin E Asetat Penyebab Penyakit Terkait Penyalahgunaan Vape

Angga Laraspati - detikNews
Rabu, 04 Des 2019 10:39 WIB
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Seperti yang diketahui beberapa waktu lalu Amerika dilanda dengan gangguan kesehatan akibat penyalahgunaan sebuah rokok elektrik atau vape. Kasus ini terjadi secara tiba-tiba. Secara mengejutkan, 2.000 orang mengalami sakit atau gangguan dan 40 orang dinyatakan telah meninggal akibat penyakit paru-paru (EVALI).

Menanggapi hal tersebut Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) & Food and Drugs Administrator AS (FDA) Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka telah menyelidiki dan menemukan indikasi kuat bahwa kasus-kasus tersebut disebabkan oleh zat yang disebut dengan Tetrahydrocannabinol (THC) yang merupakan cairan ekstrak ganja.

Dilansir dari situs resmi Centers for Diseases Control and Prevention (CDC) bahwa pengujian laboratorium CDC baru-baru ini berhasil menemukan dari sampel cairan bronchoalveolar lavage (BAL) yang dikumpulkan dari paru-paru 29 pasien dengan EVALI yang diserahkan ke CDC dari 10 negara. Dari situ diketahui terdapat vitamin E asetat di semua sampel. Vitamin E asetat digunakan sebagai aditif, terutama sebagai zat pengental dalam produk vape yang mengandung THC.


CDC pun merekomendasikan publik untuk tidak menambahkan THC, vitamin E asetat, atau zat tambahan apapun ke produk vape. CDC akan terus memperbarui pedoman, saat ada data baru selama masa penyelidikan gangguan kesehatan ini.

Meskipun penyebab dari krisis kesehatan yang ada di Amerika sudah dijelaskan bukan berasal dari produk vape, melainkan penyalahgunaan zat-zat yang terlarang, pemerintah Indonesia mencanangkan untuk melarang peredaran Vape di Indonesia.

Menanggapi wacana tersebut, Penasihat Asosiasi Vape Indonesia, Dimasz Jeremia, mengatakan bahwa pelarangan rokok elektrik di Indonesia bukannya akan menghentikan peredaran rokok elektrik, namun justru berpotensi akan memunculkan produk black market di Indonesia dan peredaran vape akan lebih sulit untuk dideteksi, mengingat permintaan akan produk vape dari konsumen yang tidak akan hilang.

Dimasz menambahkan bahwa pelarangan rokok elektrik nantinya juga akan mendorong masyarakat untuk kembali ke rokok konvensional.


"Lebih dari 1 juta vaper dewasa di Indonesia akan kembali ke rokok konvensional dan akibat dari rokok konvensional ini sudah diketahui bukan hanya bahaya tapi fatal," ujar Dimasz.

Dimasz juga mengatakan bahwa asosiasi vape di Indonesia siap untuk mendukung pemerintah dalam membuat regulasi yang memiliki dampak positif dalam jangka panjang.

"Jalan keluar dari permasalahan ini adalah menciptakan iklim coexist di mana pemerintah bersama-sama dengan seluruh stakeholder industri vape di Indonesia termasuk AVI dan teman- teman Asosiasi lain, bersama-sama saling membangun, diatur, ditata, dimonitor dan dikembangkan bersama-sama," ujar Dimasz. (prf/ega)