Jejak Majelis Taklim: Dari Wali Songo hingga Wajib Terdaftar di Kemenag

Jejak Majelis Taklim: Dari Wali Songo hingga Wajib Terdaftar di Kemenag

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Senin, 02 Des 2019 17:53 WIB
Foto: Gedung Kemenag/Istimewa
Foto: Gedung Kemenag/Istimewa
Jakarta - Majelis taklim belakangan jadi sorotan usai diwajibkan terdaftar di Kementerian Agama (Kemenag). Dalam sejarahnya, majelis taklim merupakan lembaga pendidikan Islam non-formal yang keberadaannya diakui undang-undang.

Pengakuan atas majelis taklim sebagai lembaga pendidikan nonformal itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni termaktub dalam Pasal 26:

Pasal 26
(4) Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.



Merujuk pada buku 'Pedoman Majelis Taklim' (2012) yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (BIMAS) Kemenag, secara etimologis majelis taklim berasal dari kata 'jalusan' yang artinya tempat duduk atau tempat rapat. Sedangkan 'taklim' artinya adalah pengajaran atau kegiatan belajar. Jadi majelis taklim bisa diartikan sebagai tempat yang di dalamnya ada proses kegiatan belajar-mengajar jemaah. Di dalam majelis, biasanya jemaah akan menyerap ilmu agama dari ustaz/ustazah yang dihadirkan jemaah.

Jika dilihat secara historis, sebetulnya majelis taklim sudah ada sejak saat zaman Nabi Muhammad SAW, yaitu saat Nabi mulai menjalankan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Melalui metode inilah budaya belajar Islam ala majelis taklim itu mulai lahir. Kemudian, ketika di Indonesia, konsep pembelajaran ini dikenal sebagai majelis taklim.


Tonton juga Komisi VIII soal Majelis Taklim Harus Terdaftar: Lebay! :


Selanjutnya
Halaman
1 2 3