Komisi II Cecar KPU-Bawaslu soal Data Pemilih-Penyelesaian Sengketa Pemilu

Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Senin, 02 Des 2019 17:04 WIB
KPU dan Komisi II DPR (Nur Azizah/detikcom)
KPU dan Komisi II DPR (Nur Azizah/detikcom)
Jakarta - Wakil Ketua Komisi II DPR Arief Wibowo mencecar Bawaslu soal penyelesaian sengketa pemilu. Arief pun menyinggung soal kecerdasan buatan (artificial intelligent).

"Perlu kami sampaikan, dari saya ini, saya ingin minta penjelasan soal penyelesaian sengketa antarpeserta pemilihan menggunakan mekanisme musyawarah dan secara cepat. Apakah mau mengikuti langkah penggunaan artificial intelligent atau bagaimana?" tanya Arief dalam dapat di Komisi II DPR, Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Menurut Arief, ada kejadian penyelesaian sengketa hanya melalui percakapan WhatsApp (WA). Ia khawatir Bawaslu melakukan hal serupa.


"Sebab, ada peristiwanya, lewat WA terus diputusin sendiri. Bawaslu ini bisa jadi begitu. Makanya nanti penjelasan yang detail," ujar Arief.

Sementara itu, anggota Komisi II dari F-PPP Syamsurizal menanyakan kepada KPU soal usulan satu keluarga memilih di satu TPS yang sama. Menurut Syamsurizal, berdasarkan fakta di lapangan, pemilih di satu keluarga itu banyak yang TPS-nya terpencar sangat jauh.

"Terkait DPT yang tadinya satu keluarga terus diantisipasi supaya tidak dipisahkan TPS-nya pada beberapa TPS. Dan fakta di lapangan yang kita dapat ini bahwasanya DPT satu keluarga tidak saja dijauhkan pada banyak TPS, faktanya bahkan DPT satu keluarga itu diantar sekian jauhnya dari tempat tinggal, dan itu dibuat terpisah," ungkap Syamsurizal.


Syamsurizal menyoroti penyebaran TPS untuk satu keluarga itu sama sekali tidak dikoreksi oleh Bawaslu. Ia curiga ada indikasi memenangkan salah satu calon dalam pilkada dengan metode terpencarnya para pemilih itu.

"Dan hampir tidak ada koreksi sama sekali dari Bawaslu setempat soal data penduduk yang dipencarluaskan pada area yang jauh. Barangkali ini perlu diperhatikan, karena ada petunjuk, ada indikasi mereka melakukan semacam keinginan untuk memenangkan pihak petahana, karena terjadi semacam kegiatan pilkada itu yang masih terstruktur dan masif," pungkasnya.


Tonton juga Awasi Seleksi CPNS, Komisi II DPR Akan Bentuk Panja ASN :

[Gambas:Video 20detik]

(azr/jbr)