Aktivis Menilai Tes Keperawanan Adalah Budaya Patriarki

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Minggu, 01 Des 2019 14:42 WIB
Deputi Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia, Sutriyatmi (Sachril Agustin/detikcom)
Deputi Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia, Sutriyatmi (Sachril Agustin/detikcom)


Sutriyatmi mengatakan kasus tes keperawanan yang menimpa Shalfa atau pun wanita lainnya, akan menjadikan seorang perempuan mengalami kekerasan mental. Menurutnya, tes keperawanan, baik di bidang olahraga, kepegawaian, maupun yang lainnya, tidaklah berguna.

"Kita butuh keterampilan dan prestasi. Enggak ada hubungan selaput dara masih utuh atau tidak. Itu tidak ada hubungannya dan itu pelanggaran," ucap Sutriyatmi.


Terkait dengan isu atlet senam dipulangkan karena tidak perawan, KONI menyampaikan itu karena atlet yang bersangkutan indisipliner. KONI Jatim akan menggelar mediasi antara atlet perempuan dan pelatihnya.

Dikutip dari Healthline, selain kecelakaan atau jatuh, ada 4 faktor lain yang bisa menjadi penyebab koyaknya selaput dara pada wanita meski belum pernah melakukan hubungan seks.

Hal itu adalah aktivitas fisik, masturbasi, penggunaan tampon, dan penggunaan alat medis tertentu saat memeriksakan organ intim.

1. Aktivitas Fisik

Beberapa studi membuktikan bahwa selaput dara pada wanita bisa saja rusak ataupun sobek bukan hanya karena sudah mengalami penetrasi seksual. Hal ini bisa terjadi karena aktivitas fisik atau rutinitas yang kita jalani setiap harinya bahkan tidak disadari, misalnya senam atau aerobik, bersepeda, hingga berkuda. Selain itu, saat wanita melakukan peregangan yang berat.


2. Masturbasi

Sebagian wanita mungkin pernah melakukan masturbasi. Tanpa disadari, kebiasaan ini juga bisa merusak keadaan selaput dara yang dimilikinya, apalagi jika menggunakan alat bantu seks. Meskipun jarang dilakukan, jika masturbasi dilakukan terlalu kasar atau alat bantu seperti jari pun dimasukkan terlalu dalam, dapat membuat selaput dara terkoyak.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4