Aktivis Menilai Tes Keperawanan Adalah Budaya Patriarki

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Minggu, 01 Des 2019 14:42 WIB
Deputi Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia, Sutriyatmi (Sachril Agustin/detikcom)
Deputi Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia, Sutriyatmi (Sachril Agustin/detikcom)


Nanda pun mencontohkan, perempuan adalah manusia yang memiliki karakteristik unik. Tiap perempuan memiliki penanganan yang berbeda-beda dalam hal reproduksi.

"Bahkan menstruasi saja ada yang sakit, ada yang tidak sakit. Ada yang punya masalah dengan reproduksinya, ada juga yang tidak. Jadi, setiap perempuan itu unik dengan reproduksinya, jadi penanganannya itu tidak bisa disamaratakan. Perempuan jangan hanya dilihat dari sisi perawan saja," tegasnya.


Hal yang sama diungkapkan Deputi Sekretaris Jenderal Koalisi Perempuan Indonesia Sutriyatmi. Dia mempertanyakan fungsi tes keperawanan.

"Kita semua sudah tau, selaput dara pecah ada berbagai macam hal penyebabnya, jadi buat apa lagi dipermasalahkan? Tes itu nggak ada gunanya. Budaya patriarki jelas, mitos iya. (Tes keperawanan) Nggak ada gunanya, nggak perlu," ujar Sutriyatmi.

Patriarki adalah perilaku yang mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. WHO sendiri sejak 2018 menyerukan penghentian tes keperawanan. Tes keperawanan dinyatakan tidak ilmiah, bernuansa kekerasan, dan melanggar hak asasi manusia yang dimiliki perempuan.

Aktivis Menilai Tes Keperawanan Adalah Mitos Budaya Patriarki Setop tes keperawanan! (WHO)

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4