PA 212: Jangan Salahkan Umat Jika 'Ahok-kan' Sukmawati Bila Hukum Tak Jalan

PA 212: Jangan Salahkan Umat Jika 'Ahok-kan' Sukmawati Bila Hukum Tak Jalan

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Kamis, 21 Nov 2019 18:41 WIB
Foto: Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif (Lisye Rahayu-detikcom)
Foto: Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif (Lisye Rahayu-detikcom)
Jakarta - PA 212 meminta kepolisian untuk memproses hukum kasus Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan Nabi Muhammad SAW dengan Presiden RI pertama Sukarno. PA 212 mengkhawatirkan adanya gelombang massa untuk menuntut kasus tersebut seperti yang pernah terjadi pada Eks Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok).

"Oleh karenanya saya yakin pihak kepolisian akan profesional dan akan memproses hukum saudarai Sukmawati karena memang nggak cuma sekali, ini udah berkali-kali menyakiti hati umat Islam. Oleh karenanya saya mengingatkan kepada siapapun terutama pihak kepolisian yang berwenang untuk segera memproses," kata Ketua Umum PA 212, Slamet Maarif di DPP FPI, Jalan Petamburan III, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (21/11/2019).



Slamet mengkhawatirkan apabila kasus Sukmawati tidak diproses secara hukum kemudian akan terjadi gelombang massa untuk menuntut kasus tersebut. Slamet menegaskan, jangan sampai ada aksi menuntut Sukamawati diproses hukum seperti yang pernah terjadi terhadap Ahok.

"Kami khawatir kalau ini dibiarkan justru menjadi gelombang umat kembali. Jangan salahkan kalau kemudian kasus kemudian kasus Sukmawati menjadi kasus Ahok yang kedua. Jadi jangan salahkan umat kalau kita Ahok-kan Sukmawati, karena proses hukum tidak berjalan," ujarnya.

"Oleh karenanya sebelum itu terjadi agar bangsa dan negara tetap kondusif kita sangat berharap pihak kepolisian dengan pimpinan yang baru untuk profesional segara untuk memproses Sukmawati," sambung Slamet.

Ucapan Sukmawati yang dipermasalahkan itu terlontar dalam forum diskusi pada 11 November lalu. Dalam diskusi tersebut, awalnya, Sukmawati berbicara soal perjuangan Indonesia merebut kemerdekaan RI dari jajahan Belanda. Kegiatan itu sendiri dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2019. Sukmawati kemudian melontarkan pertanyaan kepada forum yang dinilai membandingkan Nabi Muhammad dengan Sukarno.



Sukmawati juga sudah membantah jika dikatakan menistakan agama terkait ucapannya yang menyinggung Nabi Muhammad SAW. Ia menyebut Nabi Muhammad dan Sukarno memiliki derajat yang berbeda yang tidak bisa dibandingkan.

"Saya kira apa yang saya bicarakan, apa yang saya ucapkan di forum FGD Humas Polri itu dengan judulnya kan kamu tahu, yaitu sama sekali tidak ada maksud itu. Saya cinta kok para nabi, kok jadi dianggap menistakan agama?" ucap Sukmawati. (lir/haf)